Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

PREMANISME ROMANTIC....

NULIS

Blog EntryApr 4, '12 4:29 PM
for everyone

Pagi-pagi benar Mamak menelepon saya. Saya masih benar-benar mengantuk. Antara sadar tidak sadar saya angkat telepon itu.

Ya…wa’alaikumussalam,” jawab saya masih di awang-awang.

        “Kamu dimana?” tanya Mamak di seberang sana.

        “Di kos,” jawab saya masih setengah sadar.

“JANGAN kamu ikut demo…bahaya…ngeri mamak melihat mahasiswa demo itu,” kata Mamak dengan nada sangat khawatir.

“Bemo apa? Bemonya siapa?” jawab saya dengan nada sangat heran. Masak telepon pagi-pagi cuma mau membicarakan masalah bemo. Kesadaran saya langsung pulih.

       “Bemo…bemo…d…e…m…o…deeeemo,” kata Mamak menjelaskan.

        “Ooooooo demo…kirain apa,” balas saya mulai tidak sadar lagi.

“JAAAANGAN kamu ikutan demo…bahayaaa…susah Mamak di sini,” kata Mamak lagi. Benar-benar khawatir tampaknya. Ah biasanya memang begini.

        “Iya…ndak,” janji saya mulai tertidur lagi.

“Pokoknya JAAANGAN ikutan demo…sudah…begitu saja Nak…jangan lupa sembahyang….assalamu’alaikum,” tutup Mamak dengan nada sedikit lega.

        Ya….wa’alaukumussalam,” jawab saya langsung tertidur kembali.

   Begitulah Mamak. Setiap ada sesuatu yang mengkhawatirkan beliau, kata ‘JANGAN’ pasti jadi andalan. Biasanya memang seperti itu. Saya sudah hafal. Jangan mandi di kali, begitu katanya kalau mendengar ada anak yang tenggelam. Jangan naik bis, kalau mendengar ada bis yang kecelakaan. Jangan ngebut kalau naik motor, begitu katanya kalau mendengar ada orang yang jatuh dari motor, walaupun beliau tahu saya tidak punya sepeda motor.

Tapi saya juga tahu, ‘JANGAN’ itu bukan berarti tidak boleh. Lebih berarti harus jaga diri, hati-hati. Intinya saya tidak boleh celaka. Berkali-kali, dengan nada yang sangat tegas, Mamak mengatakan jangan naik gunung. Saya tetap saja naik gunung. Bukannya saya durhaka kepada orang tua. Tapi itu tadi, ‘JANGAN’ itu berarti boleh-boleh saja asal saya tidak celaka. Karena itu, peraturan kata ‘JANGAN’ ini pun bisa berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi terbaru. Pernah suatu kali, Mamak benar-benar khawatir karena seminggu HP saya tidak bisa dihubungi. Ya karena saya sedang mendaki gunung Semeru.

“Kamu kemana saja…ditelepon ndak nyambung-nyambung,” kata Mamak marah campur khawatir ketika itu.

        “Jalan-jalan….mumpung liburan,” kata saya santai saja.

        “Jalan-jalan ke mana?” tanya Mamak.

        “Semeru,” jawab saya.

        “Semeru itu apa?” tanya Mamak lagi.

“Gunung,” jawab saya lagi sembari siap-siap mendengar kata-kata ‘JAAAANGAN naik gunung’.

“Ooooo…ndak masalah naik gunung...bagus itu…pokoknya JAAANGAN jalan-jalan ke pantai…jauh-jauh saja dari pantai…bahaya…sekarang sering terjadi tsunami.”

Nah…seperti yang saya katakan tadi, peraturan ‘JANGAN’ ini bisa berubah bahkan seratus depanpuluh derajat. Sesuai situasi dan kondisi terbaru saja.

Intinya, pagi itu Mamak memperingatkan saya untuk tidak ikut demo karena bisa mencelakakan diri saya. Tapi kalaupun saya ikut demo, itu juga tidak masalah, yang penting tidak celaka. Namun di usia segini, semangat untuk ‘memberontak’ itu sudah benar-benar pudar. Ya…saya cuma bisa mendukung lewat tulisan saja.

 

***********

           

Siangnya saya ikut teman menambal ban sepeda motornya yang tertusuk paku di jalan Kaliurang pojok Grha Sabha Permana UGM.

”Masih kuliah Mas?” tanya tukang tambal ban itu sambil mencelup-celupkan ban ke dalam ember yang berisi air.

“Masih,” jawab saya.

“Kuliah di mana? UGM?” tanyanya lagi. Tumben tebakannya benar. Padahal biasanya orang menebak saya kuliah di ISI.

Ya,” jawab saya lagi.

Kok UGM adem ayem saja Masndak ikutan demo…padahal kan mahasiswa di berbagai kota sudah mulai demo… kemarin di STAIN rame lho Mas,” kata tukang tambal ban itu. STAIN itu maksudnya UIN.

Wah kurang tahu juga saya Mas…mungkin sibuk belajar,” kata saya menaggapi.

“Apa mungkin karena Pak Boediono itu orang UGM, ya? makanya mahasiswa UGM sungkan ikutan demo,” katanya menebak-nebak.

“Bisa jadi juga begitu Mas,” kata saya sekaligus seperti tersadar kalau ternyata Indonesia ini punya wakil presiden. Tiga tahunan ini kok rasa-rasanya saya jarang sekali mendengar kata-kata ‘wakil presiden’.

“Apa juga karena biaya kuliah sekarang mahal makanya mahasiswa jadi malas ikutan demo…mending belajar yang rajin biar cepat lulus daripada mikirin kepentingan rakyat,” lagi-lagi tukang tambal ban itu menebak-nebak.

“Mungkin juga begitu Mas…tapi mikirin rakyat kan ndak harus ikutan demo,” kata saya diplomatis menanggapi asumsi tukang tambal bal itu.

“Apa ya pemerintah ndak ngerti keadaan kami ini…bensin belum naik saja, harga-harga sudah mulai naik…sebenarnya ndak masalah kalau bensin saja yang naik…kami masih sanggup….tapi bensin naik kan semua harga barang juga ikutan naik,” katanya lagi.

Saya mau bilang apa. Yang jelas saya lihat raut muka tukang tambal ban itu benar-benar kecewa dengan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM. Dan mungkin juga kecewa melihat mahasiswa di kampus yang ada dihadapannya, yang sepertinya tidak perduli dengan nasibnya.

‘Mikirin rakyat kan ndak harus ikutan demo’. Ah…benar-benar diplomatis.


**********

            Malamnya saya cangkruk di angkringan dekat MM UGM. Senyum-senyum saya melihat muka Bapak pemilik angkringan yang dipenuhi koyo. Lama rasanya saya tidak melihat pemandangan seperti ini. Dulu, waktu SD, pulang sekolah pasti saya lewat pasar. Rata-rata ibu-ibu pedagang di pasar saya lihat wajahnya minimal ditempel 2 lembar koyo. 

“Sakit Pak?” tanya saya basa-basi sambil mengambil gorengan tempe.

“Iya ini Mas…dari tadi pagi kok yo rasanya badan ini ndak enak…mungkin masuk angin…paling juga nanti sembuh sendiri…ya namanya orang sudah sepuh begini,” jawab pemilik angkringan itu.

Saya seringkali merasa benar-benar ‘takjub’ dengan orang-orang seperti pemilik angkringan itu. Apapun penyakitnya, dari yang ringan-ringan sampai yang kelas berat, hampir dapat dipastikan namanya masuk angin. Dan obatnya pun itu-itu saja. Kalau tidak koyo ya balsem, kalau tidak balsem ya minyak angin, kalau tidak minyak angin ya pasti minyak kayu putih. Ya…obatnya itu-itu saja. Tentunya ditambah keyakinan yang kuat plus sabar tanpa batas, atau lebih tepat dikatakan pasrah. Kalau toh kita mau mendebat masalah itu, jawabannya juga hampir pasti senada.

Ah…mau hari ini, mau besok, manusia ini pada akhirnya juga bakal mati…hidup ini sudah ada yang ngatur,” begitu kata mereka.

Kalau sudah begini jawabannya lalu mau bilang apa.

“Iya itu Pak…cuaca sedang tidak tentu…masuk pancaroba…musimnya orang sakit,” begitu kata saya sambil menyeruput kopi.

“Begini ini karena Merapi Mas…kabarnya kawah Merapi sudah runtuh…begini ini kalau pemimpin sudah tidak peduli lagi dengan rakyatnya, alam pasti marah,” begitu kata Bapak itu.

Nah…di samping tentang penyakit dan obatnya itu, masalah otak-atik gathuk ini juga selalu menarik perhatian saya. Apa coba hubungannya pancaroba dengan Merapi, apa juga hubungannya dengan pemimpin yang tidak becus mengurus negara. Benar-benar pemikiran yang menakjubkan. Yang jelas, saya yakin perkataan Bapak itu pasti berhubungan dengan rencana kenaikan BBM.

Mbok ya kalau mau menaikkan bensin, kami ini juga ditanyain…kami ini mampunya naik berapa…jangan seenaknya saja,” lanjut Bapak itu.

Nah, apa saya bilang, pasti berkaitan dengan rencana kenaikan BBM.

“Memangnya mampunya naik berapa Pak?” tanya saya.

Ya kalau bisa jangan naik Mas, segini saja kami sudah susah…apalagi kalau dinaikkan,” jawab Bapak itu.

“Kalau seandainya benar-benar jadi naik trus gimana Pak?” tanya saya lagi.

Ya mau bagaimana lagi Mas…kami ini bisa apa,” jawab Bapak itu pasrah.

“Nanti kalau Njenengan sudah jadi pemimpin jangan pernah melupakan rakyat lho Mas…ingat, Njengan pernah makan di angkringan,” kata Bapak itu lalu tertawa.

Saya senyum-senyum saja.   

Saya jadi teringat peristiwa 9 tahun lalu di sebuah pulau mungil yang indah, Sempu. Saat itu saya berbincang-bincang dengan seorang nelayan. Dengan penuh keyakinanan dia berkata,

“Saya yakin Mas kalau orang ini yang jadi presiden kita maka bangsa ini bakal sejahtera, gemah ripah loh jinawi…ini dia pemimpin yang ditunggu-tunggu rakyat…istilahnya itu Ratu Adil, Satrio Piningit,” begitu kata nelayan itu berapi-api.

Setengah berbisik, saya bertanya kepada teman yang ada di sebelah saya,

“Maksud bapak itu apa,” kata saya penasaran. Maklum koleksi kata-kata Jawa saya saat itu benar-benar terbatas. Terbatas pada kata-kata yang dipakai untuk kegiatan sehari-hari, dan juga tentunya pisuhan.

Dan hari ini, saya tidak bisa memutuskan, apakah kata-kata nelayan itu benar-benar terbukti.

Saya lihat lagi wajah Bapak pemilik angkringan itu. Wajahnya yang legam dihiasi kotak-kotak putih itu benar-benar memancarkan aroma kepasrahan tanpa batas. Yang anehnya masih juga bisa tertawa lepas. Dan yang jelas, saya tidak tahu apakah Tuhan masih memberlakukan hukum yang mengatakan jika seorang pemimpin itu benar maka dia akan dapat dua pahala namun jika salah maka dia masih dapat satu pahala. Yang saya yakin, Tuhan pasti murung melihat wajah Bapak pemilik angkringan itu.

**********

            Malam itu juga saya lihat di televisi, pagar gedung DPR dijebol massa. Pernah sekali saya berdiri di depan pagar itu. ‘Mengagumi’ betapa besar dan tingginya pagar itu. Seumur hidup, baru sekali itu saya melihat pagar sebesar dan setinggi itu. Salah seorang dosen saya pernah mengatakan, pagar merupakan elemen arsitektur yang sangat memuakkan, terutama jika ditempatkan di ruang rakyat.

            Entah kekuatan seperti apa yang bisa menjebol pagar sekokoh itu. Anarkis, itulah istilah yang dikatakan beberapa orang. Saya pribadi tidak bisa menentukan siapa sebenarnya yang anarkis, yang duduk-duduk mengantuk di dalam pagar atau yang berteriak di bawah terik matahari di luar pagar…



…..

Kalau cinta sudah dibuang

Jangan harap keadilan akan datang

Kesedihan hanya tontonan

Bagi mereka yang diperbudak jabatan

…..

Sabar dan tunggu

Itu jawaban yang kami terima

Ternyata kita harus ke jalan

Robohkan setan yang berdiri mengangkang

…..

(Bongkar, Swami)


Blog EntryMar 13, '12 1:00 PM
for everyone

Pertama kali pindah ke Dompu, kampung halaman bapak, pada tahun 1990 ada banyak hal baru yang saya temui. Itu pertama kalinya saya memegang sapi, pertama kali saya mandi di kali, pertama kalinya juga saya tinggal di rumah yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu dan lantainya tidak menyentuh tanah. Pertama kali saya belajar sebuah hal tentang ayam, bahwa jangan pernah mengganggu anak ayam yang baru menetas. Saya pernah menangis karena muka saya dihajar induk ayam ketika ingin menangkap anaknya yang bagi saya terlihat menggemaskan. Induk ayam benar-benar posesif melindungi anaknya. Ya seperti ibu-ibu kita melindungi kita. Nenek, uwak, paman dan bibi saya tertawa melihat hal itu. Tertawa melihat tingkah laku anak kota yang banyak tahu hal-hal ‘besar’ tapi tidak mengerti hal-hal se-‘kecil’ itu.

Di Dompu juga pertama kali saya melihat kopi diminum bukan oleh laki-laki dewasa saja. Selama ini cuma bapak yang saya lihat selalu minum kopi. Mamak tidak pernah minum kopi. Jadi, waktu itu saya berasumsi bahwa kopi itu minuman laki-laki dewasa. Di Dompu saya melihat tidak hanya laki-laki dewasa saja yang minum kopi. Nenek, bibi, bahkan sepupu saya yang seumuran dengan saya pun minum kopi. Benar-benar pemandangan yang ajaib bagi saya ketika itu. Saya masih ingat dengan jelas kata-kata saya kepada sepupu saya saat itu.

“Kecil-kecil kok sudah minum kopi”, kata saya dengan nada seakan-akan kopi itu minuman terlarang bagi anak-anak.

Lagi-lagi, semua orang tertawa mendengar perkataan saya itu. Bahkan dikemudian hari bukan hanya manusia yang saya lihat minum kopi. Kuda juga ternyata doyan minuman ini. Kopi dicampur madu dan telur ayam kampung diberikan sebagai suplemen ketika kuda hendak bertanding. Tapi saat itu, pandangan ‘aneh’ saya terhadap kopi itu sudah hilang. Seandainya saya melihat kuda minum kopi diawal-awal kepindahan, mungkin saya akan berkata kepada kuda itu, “kuda kok minum kopi”. Dan mungkin kuda itu bakal nyengir, memperlihatkan gigi serinya yang besar-benar, karena mendengar perkataan saya itu.

Di Dompu, kopi mulai dikenal mungkin bersamaan dengan masuknya agama Islam sekitar abad 14. Dibawa oleh pedagang-pedagang Arab. Dalam bahasa Dompu, kopi disebut kahawa. Terdengar mirip dengan kata qahwah, penyebutan kopi dalam bahasa Arab. Yang juga merupakan asal mula kata kopi. Qahwah dalam bahasa Turki disebut Kahveh yang kemudian menjadi asal mula kata koffie, sebutan kopi dalam bahasa Belanda. Yang pada akhirnya diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kopi. Mungkin kata kahawa dalam bahasa Dompu itu merupakan serapan dari qahwah dalam bahasa arab tersebut. Sehingga bisa diasumsikan bahwa kopi masuk bersamaan dengan masuknya agama Islam. Walaupun memang dalam catatan sejarah, perkebunan kopi dibuka pertama kali di sekitar lereng Tambora pada tahun 1930 oleh  G Bjorklund, seorang pengusaha yang berasal dari Swedia. Namun dengan ditemukannya biji kopi ketika dilakukan penggalian oleh Prof. Haraldur Sirgudson, ilmuwan yang berasal dari Islandia, untuk menemukan peradaban yang hilang di sekitar lereng Tambora maka dapat diasumsikan kopi sudah ada jauh sebelum gunung Tambora meletus pada tahun 1815. Entah tanaman kopi saat itu memang sudah dibudidayakan atau dibawa oleh pedagang-pedagang asing. Yang jelas di Dompu, minum kopi itu merupakan tradisi. Seperti yang saya sebutkan di awal, semua orang minum kopi, dari anak kecil sampai orang tua, laki-laki maupun perempuan, bahkan juga kuda.

 

*********

 

Di dunia ini terdapat bermacam-macam kebudayaan, beraneka rupa tradisi, pemikiran maupun tingkah laku. Terkadang terlihat aneh. Tidak sesuai dengan pemahaman atau keyakinan kita bahkan sering bertolak belakang. Seperti halnya saya yang saat itu merasa benar-benar aneh melihat sepupu saya minum kopi. Anehnya orang Swedia yang jauh-jauh datang ke lereng Tambora ‘cuma’ untuk menanam kopi. Juga anehnya orang Islandia yang sudah datang jauh-jauh ‘cuma’ untuk menggali tanah mencari puing-puing peradaban yang sudah terkubur ratusan tahun.

Namun seaneh apapun itu, yang jelas perbedaan itu adalah kenyataan. Banyak orang mengatakan perbedaan itu berkah. Ada juga yang mengatakan perbedaan itu indah. Karena perbedaan itulah yang membuat kehidupan ini tidak monoton, benar-benar dinamis dan penuh gairah. Yang lain menyatakan perbedaan itu fitrah. Tuhan menciptakan perbedaan dengan tujuan agar kita saling mengenali dan menghormati satu sama lainnya. Tidak hanya sesama manusia tapi juga dengan makhluk lainnya. Jadi, tidak ada gunanya mempermasalahkan perbedaan. Percuma memandang perbedaan itu sebagai masalah. Saya rasa, saling menghargai dan menghormati adalah jalan yang paling adil.

 

*********

           

Tadi siang, saya lihat di televisi, di Australia sana ada yang namanya babyccino, kopi khusus bayi, kopi tanpa kafein. Konon kabarnya kopi ini sudah lama menjadi trend di sana. Setiap kedai kopi hampir bisa dipastikan menyediakannya. Benar-benar lucu dan menggemaskan melihat bayi berkumpul minum kopi. Aneh…bayi kok sudah minum kopi…he…he…he…

Oh ya, saya juga sangat berharap Zlatan Ibrahimovic mau datang ke Dompu. Tahu Ibrahimovic kan? Itu lho pemain bola berkebangsaan Swedia yang bermain di klub favorit saya, AC Milan, yang terkenal dengan julukan Ibrakadabra. Terserahlah dia mau ngapain. Hubungan antara Dompu dan negara Nordik itu kan aneh. Mau bergabung dengan Persidom silakan, mau tanam kopi juga monggo, atau mau melakukan penggalian arkeologi juga tidak masalah. Ah…mimpi…he…he…he…

 

It's a beautiful world we live in
A sweet romantic place
Beautiful people everywhere
The way they show they care makes me want to say
It's a beautiful world
Oh what a beautiful world

(Beautiful World, RATM)


Blog EntryMar 11, '12 12:11 PM
for everyone

Teman se-kost-an saya pernah mengatakan kepada saya betapa dia membenci pelajaran sejarah. Buat apa kita belajar masa lalu padahal kita hidup untuk masa depan. Yang sudah berlalu biarkan saja berlalu. Tidak perlu diungkit-ungkit lagi. Tidak ada gunanya diingat-ingat lagi. Let it be. Saya diam saja. Saya tidak tahu apakah memang benar dia membenci sejarah atau tidak. Ya…saya  memilih untuk diam saja, karena yang saya tahu dia memang sedang patah hati. Dan seperti yang juga saya tahu, bagi orang yang sedang patah hati, sejarah memang benar-benar menyakitkan. Berbicara sejarah dengan orang yang patah hati sama saja mengorek luka lama yang mungkin sudah dianggap sembuh. Ditambah lagi kata banyak orang bahwa sejarah itu selalu milik pemenang, bukan pecundang. Ada yang tidak setuju?

Namun saya juga tahu bahwa belajar sejarah bukan berarti membuat kita mundur jauh ke belakang. Di jaman yang serba cepat ini, jangankan mundur, berhenti sejenak pun kita akan hancur terinjak-injak, begitu kata orang-orang. Tapi seperti yang pernah saya sampaikan sebelumnya, seorang bijak pernah berkata, ‘semakin jauh kita menarik busur panah, maka semakin cepat dan jauh anak panah itu melaju’. Semakin jauh kita melihat ke belakang, maka semakin jauh pula kita bisa melihat masa depan. Semakin kita tahu darimana dan bagaimana kita datang, maka semakin kita tahu juga kemana dan bagaimana tujuan hidup ini. Semakin kita tahu memperlakukan akar maka kita tinggal menunggu saatnya berpesta di waktu panen.

Sejarah harus dipelajari dan diteliti sedalam-luasnya sehingga menimbulkan hikmah. Jangan ditelan mentah-mentah sehingga tidak menimbulkan amarah. Sejarah bukan dendam tapi masa depan.

Dari secangkir kopi pun kita bisa belajar sejarah. Harumnya aroma secangkir kopi bisa bercerita kepada kita tentang sebuah sejarah. Sejarah yang cukup kelam. Kisah yang berlinangan air mata, keringat, dan juga berlumuran darah…

Dari buku sejarah semasa sekolah dulu, tentunya kita tahu setelah dibubarkannya VOC karena bangkrut, Kerajaan Belanda menerapkan sistem tanam paksa di Hindia Belanda, sebutan untuk Indonesia waktu itu. VOC bangkrut akibat merajalelanya korupsi dalam perusahaan tersebut. Ditambah lagi dengan perang Jawa, atau lebih dikenal dengan perang Diponegoro, dan juga perang Paderi, yang memakan biaya tidak sedikit. Sistem Tanam Paksa, atau kultivasi, atau paling terkenal dengan sebutan cultuurstelsel, diberlakukan untuk menutupi hutang menggunung yang ditinggalkan VOC. Sistem ini dianggap lebih kejam daripada monopoli yang dilakukan VOC, walaupun memang jauh lebih efektif. Hanya beberapa tahun setelah diterapkannya sistem tersebut, hutang yang ditinggalkan VOC bukan saja lunas bahkan Kerajaan Belanda mendapatkan keuntungan yang berlimpah. Van den Bosch, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menerapkan sistem itu sampai mendapat penghargaan dari Kerajaan Belanda.

Sistem ini dianggap lebih kejam daripada monopoli karena pada sistem monopoli rakyat nusantara hanya diwajibkan untuk menjual hasil bumi pada VOC tentunya dengan harga yang sudah ditentukan. Namun pada sistem tanam paksa, dari hulu ke hilir semuanya ditentukan. Rakyat harus merelakan tanahnya untuk ditanami dengan tanaman yang sudah ditentukan dan hasilnya harus sepenuhnya diserahkan kepada Belanda. Pemilik lahan hanya menerima pembayaran seadanya. Sedangkan yang tidak memiliki lahan diwajibkan bekerja pada perkebunan-perkebunan yang ada. Juga dengan upah yang sangat rendah, yang kadang-kadang saja dibayarkan. Bisa dikatakan, Sistem Tanam Paksa ini merupakan puncak dari penjajahan yang dilakukan Belanda. Sekaligus puncak dari penderitaan Rakyat Nusantara. Kelaparan terjadi dimana-mana karena lahan yang biasanya ditanami tanaman pangan pun harus ditanami komoditas ekspor sepanjang tahun. ‘Bapak’ polah, anak kepradhah…

Kopi merupakan salah satu komoditas yang sangat laku di pasaran dunia. Di samping wajib ditanam di lahan milik rakyat, di seluruh nusantara banyak dibuka perkebunan kopi baru. Rakyat yang tidak memiliki lahan dipekerjakan di perkebunan-perkebunan tersebut. Dan karena terlalu kejamnya sistem ini, bahkan pekerja kebun pun tidak diperbolehkan untuk mencicipi hasil kebun tersebut. Padahal mereka yang menanam, merawat, memanen tanaman itu. Mungkin anda pernah mendengar di daerah Batusangkar, Sumatera Barat, ada yang namanya kopi kawa. Kopi yang tidak terbuat dari biji kopi, namun dari daun kopi. Kopi ‘daun kopi’ ini pun muncul akibat sistem tanam paksa itu.

Sampai sekarang, di berbagai wilayah nusantara, perkebunan-perkebunan kopi itu masih banyak yang bertahan. Menghasilkan biji kopi dengan rasa yang benar-benar khas. Teman saya pernah berkata, “kamu tahu kenapa kopi Indonesia itu rasanya benar-benar khas? Ya karena dulunya kopi ini disiram dengan keringat dan air mata, dipupuk dengan darah…”

 

***********

Sekelam apapun sebuah kisah, pasti ada hikmahnya. Yang bisa kita jadikan pelajaran penting untuk menata kehidupan kita hari ini, lebih-lebih di masa depan. Namun hari ini, ketika saya menikmati secangkir kopi. Lamat-lamat saya mendengar kopi itu berbisik kepada saya, “sampai detik ini bangsamu masih tetap dijajah Kawan…”

           

Emancipate yourselves from mental slavery

None but ourselves can free our minds

(Redemption Song. Robert Nesta Marley)


Blog EntryMar 11, '12 11:58 AM
for everyone

Pernahkah anda memperhatikan keadaan sekeliling ketika anda ‘ngopi’? Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Lalu apa? Saya yakin sudah banyak yang berubah di sekeliling kita. Teman-teman yang menemani saat kita ‘ngopi’, tempat di mana kita biasa ‘ngopi’, juga pembicaraan yang menghangatkan suasana ‘ngopi’.

Ya…pasti banyak perubahan. Teman yang datang mengisi hidup kita, menggoreskan beberapa kisah, susah senang bersama, lalu pergi. Kemudian datang yang lainnya mengisi ruang kosong itu, lalu pergi. Ya…datang dan pergi, silih berganti. Juga tempat ‘ngopi’ baru. Yang dulunya mungkin warung kopi Pak Anu, Cak Nganu di pinggir jalan sudah cukup. Sekarang mungkin minimal yang ada tempat parkir mobilnya. Dan pastinya pembicaraan-pembicaraan baru yang mungkin semakin dewasa dan berbobot, kental dengan konteks kehidupan nyata. Tidak lagi sekedar membicarakan dosen A yang terkenal killer, dosen B yang tidak pernah mengajar tapi murah nilai, adik kelas yang berparas ayu, atau kakak kelas yang ganteng dan baik hati. Sekarang mungkin tentang si A yang sudah jadi menejer di PT. Anu Tbk. Si B yang proyeknya sudah pakai em besar. Si C yang hidupnya begitu-begitu saja, tidak peka musim. Si D yang sudah punya 4 anak, anak pertama semua. Ya…tidak lagi membicarakan rencana demonstrasi menentang kenaikan BBM tapi bagaimana rencana dan strategi menjalani hidup jika BBM benar-benar naik. Itu pun kalau tidak teralihkan isu rok mini.

Ya...begitulah hidup. Waktu terus berjalan. Banyak yang berubah. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang berguguran, tunas-tunas muda bermunculan. Ada yang berakhir, ada juga yang lahir. Semoga tidak terdengar tangis, tidak ada penyesalan, karena memang kita semua benar-benar merugi kecuali kita tetap teguh memegang dan menjalani kebenaran, walaupun mungkin pahit...

           

Good friends we have

Oh, good friends we have lost

Along the way

In this great future,

You can't forget your past

So dry your tears, I say…

(No Woman No Cry. Robert Nesta Marley)


Blog EntryMar 10, '12 11:59 AM
for everyone

   Pagi itu, Ranu Kumbolo masih diselimuti kabut. Embun-embun membeku di ujung bunga rumput. Bukit, pohon pinus, semak, tenda-tenda, hanya terlihat samar-samar saja. Dingin menusuk hingga ke tulang. Uap terus saja keluar dari mulut dan hidung ketika menghembuskan nafas. Saya duduk diam meringkuk di depan api unggun. Tangan saya memegang segelas kopi.

           Siang itu, puncak Welirang benar-benar panas. Keringat mengalir deras. Langit biru tanpa cacat. Di kejauhan saya melihat puncak Semeru seperti mengambang di atas awan. Kawi membiru bersama langit. Penanggungan berdiri gagah. Arjuna menjulang tinggi. Cepat-cepat saya keluarkan kompor. Memanaskan air. Ingin menyeduh kopi.

           Sore itu, langit begitu cerah. Gunung Baru Jari, bibir kawah, pohon pinus, memantul indah di permukaan danau Segara Anak yang tenang. Tenda-tenda dengan warna-warni cerah berjejer di pinggir danau. Kontras dengan warna hijau alam. Seperti lukisan Mondrian. Joran beraneka warna dan ukuran terjulur mencoba menipu ikan-ikan. Saya cuma duduk diam merendam kaki sambil menikmati segelas kopi.

          Malam itu, bintang-bintang ramai berkilauan. Di Cokro Suryo semuanya begitu tenang dan sunyi. Waktu seakan berhenti untuk sejenak. Kami duduk merapat mengelilingi api unggun yang cahayanya memantul di wajah kami yang penuh dengan kerinduan akan sesuatu. Entah apa. Ditemani segelas kopi, kami mengarungi dinginnya malam dengan canda dan tawa, juga harapan dan cita-cita.

     Terima kasih kepada kopi. Terima kasih kepada keindahan. Terima kasih kepada kebersamaan. Juga terima kasih kepada-Nya karena telah menciptakan kopi, keindahan, juga kebersamaan…

 

Jika kita tidur, kita adalah pengantuk bagi-Nya

Dan jika kita bangun, kita adalah tangan bagi-Nya

Jika kita menangis, kita adalah awan-Nya yang penuh air mata

Dan jika kita tertawa, kita adalah cahaya bagi-Nya saat itu

Jika kita marah dan bertengkar, itu adalah cermin kemurkaan-Nya

Dan jika kita berdamai dan memaafkan, itulah cermin cinta-Nya

 

Siapakah kita di dunia yang rumit ini?

 

(Jalaluddin Rumi)


Blog EntryMar 4, '12 11:24 AM
for everyone

          Kata seorang teman, kopi itu hitam, kopi itu nikmat, kopi itu disukai banyak orang. Juga disukai banyak semut, kata saya dalam hati. Lalu teman saya itu bilang, kopi itu persis seperti dirinya. Saya tidak tahu apakah teman saya ini sedang menghibur diri atau memang sedang membanggakan dirinya. Tipis. Tapi setidaknya analogi kopi itu sangat membantu meningkatkan kepercayaan dirinya, memperkuat keyakinannya.

Dan saya juga sangat yakin, bersama susu dan madu mungkin juga soda, kopi merupakan minuman yang dihidangkan di surga. Mungkin anda akan membantah, lalu bertanya, “apa dasarnya anda mengatakan bahwa kopi itu minuman surga? Apakah anda pernah ke surga?” atau bahkan anda akan bertanya, “memangnya surga itu ada?”. Ah saya kan sudah membatasi penyataan saya dengan kata ‘yakin’. Itu artinya kita lihat saja nanti. Toh jika anda mengatakan sebaliknya, anda juga tidak akan bisa membuktikannya. Paling-paling anda akan menyampaikan teori-teori untuk menyangkal pernyataan saya, yang entah mengutip dari kata-kata orang-orang yang anda kagumi atau mungkin hasil pemikiran anda sendiri atau kombinasi keduanya.

Teori atau kata-kata tidak pernah membuktikan sesuatu sampai sesuatu itu terjadi. Jika anda bertanya pada Leonardo da Vinci apakah manusia bisa terbang. Maka dengan penuh keyakinan pelukis Monalissa itu akan mengangguk-anggukan kepalanya. Lengkap dengan penjelasan dan juga sketsa. Tapi jika anda ingin bukti nyata. Paling-paling dia bakal mengajak anda minum teh sambil mengagumi lukisan Monalissa. Ribuan tahun orang berteori bahwa manusia bisa terbang, ribuan tahun juga diperlukan manusia untuk membuktikan bahwa manusia pada akhirnya memang bisa terbang.

Ini hanya masalah waktu saja kok. Kita lihat saja nanti. Ndak perlu maksa. Ndak usah tersinggung. Take it easy

 

I may never find all the answers

I may never understand why

I may never prove

What I know to be true

But I know that I still have to try

(The Spirit Carries On, Dream Theater)


Blog EntryMar 3, '12 12:15 PM
for everyone

    Siapa yang tak kenal kopi Luwak. Kopi yang ditasbihkan sebagai kopi termahal di dunia itu bahkan pernah masuk acara Oprah Winfrey. Di Malioboro Mall saya lihat secangkir kopi Luwak dihargai antara Rp 150.000,00 hingga Rp 200.000,00 membuat saya benar-benar tidak tertarik untuk mencoba kenikmatan kopi yang kata orang rasanya tiada tara itu.

           Kita juga tentu tahu dari mana kopi Luwak itu berasal. Ya…berasal dari kotoran makhluk bernama Luwak atau mungkin kebanyakan orang lebih mengenalnya dengan nama Musang. Lalu bagaimana ceritanya benda yang berasal dari kotoran bisa jadi raja dari segala raja kopi. Saya sendiri tidak bisa memastikannya, bukan bidang saya. Namun menurut orang-orang, Luwak sebagai hewan tentunya dianugerahi insting yang tajam untuk bisa memilih mana biji kopi yang masak sempurna dan yang tidak. Artinya biji kopi yang masuk ke dalam perut Luwak merupakan biji kopi pilihan, yang terbaik. Lalu biji kopi terbaik tersebut bercampur dengan berbagai bakteri dan enzim percernaan di dalam perut Luwak dan mengalami proses fermentasi. Nah karena proses pencernaan Luwak berlangsung singkat maka biji kopi tersebut masih dalam keadaan utuh ketika dikeluarkan. Singkatnya Luwak berfungsi memilih, mengupas sekaligus memfermentasi biji kopi tersebut dan menghasilkan biji kopi terbaik dari yang terbaik. Best of the best.

          Sepanjang sejarah, kita tahu bahwa manusia memiliki hubungan yang sangat buruk dengan makhluk yang namanya Luwak itu. Luwak dianggap sebagai binatang yang selalu merugikan manusia. Suka mencuri buah-buahan dan ayam. Saking bencinya manusia kepada hewan yang satu ini, manusia sampai-sampai mengabadikan namanya dalam salah satu pepatah lama, yaitu ‘bagai musang berbulu ayam’. Pepatah yang artinya kurang lebih sama dengan pepatah lain yang berbunyi ‘bagai serigala berbulu domba’. Seseorang yang pura-pura berbuat baik, padahal sebenarnya dia memiliki niat jahat. Di daerah asal saya malahan lebih kejam lagi perumpamaan yang berkaitan dengan Luwak ini. Jika seseorang sudah disamakan dengan Luwak, atau Rahu dalam bahasa lokalnya, maka orang tersebut bisa dipastikan sejelek-jeleknya manusia. Sudah tampang minus, punya sifat yang buruk pula.

Karakter ‘musang berbulu ayam’ ini dapat kita temukan hampir di seluruh sinetron. Karakter yang selalu membuat ibu-ibu, dan juga Sherina Munaf, gregetan setengah mati. Saya masih ingat betapa bencinya Mamak, ibu saya, kepada karakter Datuk Maringgih dalam sinetron ‘Kasih Tak Sampai’ atau Kacak dalam sinetron ‘Sengsara Membawa Nikmat’. Karakter semacam ini lazim juga kita temui ketika ada pil-pilan. Entah pilkades, pilkada, pilcaleg, bahkan pilpres. Muka-muka manis dengan mulut manis, juga janji-janji yang tak kalah manisnya bertebaran dimana-mana. So sweet lah pokoknya. Tidak sekedar mulut manis saja namun juga disertai tindakan-tindakan manis seperti bagi-bagi duit, sembako, pengobatan gratis, sunatan massal, joget bareng sampai sumbangan semen, pasir, seng untuk pembangunan masjid. Pengorbanan yang cukup besar saya rasa. Pengorbanan besar yang seperti biasanya juga membawa konsekuensi yang tidak kalah besarnya. Bahkan jauh lebih besar. Dengan korban yang besar juga tentunya. Ya rakyat itu sendiri. Benar-benar ‘Luwak berbulu ayam’…

Namun hubungan buruk antara manusia dengan Luwak tampaknya sekarang akan tinggal kenangan saja. Berganti menjadi kisah manis dan menggiurkan. Bagaimana tidak, kisah itu dihargai jutaan rupiah tiap kilogramnya. Jadi tidak heran sekarang semakin banyak saja orang yang beternak Luwak. Hewan ini sekarang menjadi primadona. Seperti kupu-kupu indah yang baru keluar dari kepompongnya yang menjijikan. Mungkin suatu saat nanti akan ada pepatah baru yang berbunyi, ‘bagai Luwak memakan kopi’. Pepatah yang ditujukan kepada orang-orang yang sangat berjasa bagi sekitarnya.

Setelah mengangkat derajat si arang dari bawah tungku hingga masuk Kraton, kopi mengangkat derajat Luwak jauh melambung tinggi. Jauh melintasi benua dan samudera hingga masuk mulut si Winfrey. Di Korea konon katanya secangkir kopi Luwak dihargai hingga Rp 400.000,00. Di New York sampai menyentuh angka 70 dollar setiap cangkirnya. Harga yang sebanding dengan kepuasan yang didapatkan, begitu kata orang-orang. Sampai sekarang, harga secangkir kopi paling mahal yang pernah melewati kerongkongan saya ‘cuma’ Rp 25.000,00. Saya masih ingat betapa hati-hatinya saya memperlakukan kopi itu dan betapa bangganya saya karena mulut ini pernah dilalui kopi itu. Entah bagaimana perasaan saya jika suatu saat nanti mendapat kesempatan menikmati secangkir kopi Luwak.

Yang jelas ada sebuah pelajaran penting yang saya dapatkan dari kopi Luwak ini. Bahwa Sang Pencipta menciptakan segala sesuatu itu pasti bermanfaat. Tinggal bagaimana manusia dengan anugerah akal yang sudah diberikan menemukan manfaat itu…  


Blog EntryMar 3, '12 12:09 PM
for everyone

  Kalau anda bertamasya ke Jogja, jangan lupa untuk berfoto di Tugu. Kata orang, ke Jogja tanpa berfoto di Tugu ya sama saja tidak ke Jogja. Sama saja makan sayur bayam tapi tidak ada bayamnya. Saya pribadi terus terang saja merasa aneh dengan pernyataan itu. Jogja itu kan bukan hanya Tugu saja. Walaupun memang pernyataan itu ada benarnya juga. Tugu itu memang landmark-nya kota Jogja. Tetenger, istilahnya dalam bahasa nasional. Semua orang Jogja pasti tahu Tugu. Kalau anda punya foto bersama Tugu maka tidak perlu diragukan lagi bahwa anda memang pernah ke Jogja. Bukti yang benar-benar otentik bahwa anda pernah berkunjung ke kota Gudeg. Benda itu cuma ada satu saja di dunia ini. Ya cuma ada di Jogja. Mungkin anda ingin berkelit sembari berkata, “diphotoshop kan bisa juga.” Nah kalau masalah ini tanya saja Roy Suryo.

      Selain berfoto di Tugu, kalau anda merasa benar-benar seorang pecinta kopi maka sebaiknya anda mencoba kopi Joss. Tidaklah sulit menemukan kopi ini. Hampir setiap warung kopi atau angkringan menyediakan menu ini. Kopi Joss itu sebenarnya kopi hitam biasa yang kemudian ke dalamnya diceburkan arang yang masih membara sehingga menghasilkan efek bunyi mendesis. Nyoosssssshhhh…kira-kira begitu bunyinya kalau disimbolkan dalam bentuk tulisan. Dan akhirnya pun kopi itu dinamakan kopi Joss. Kopi Joss ini bahkan sudah dinyatakan sebagai official beverage di kalangan Kraton Yogyakarta.

Menurut saya pribadi, apa yang dilakukan itu tidaklah mempengaruhi rasa kopi secara signifikan. Namun memang hal itu tentunya merupakan sebuah atraksi yang unik dan menarik sehingga dapat menimbulkan sensasi tersendiri. Ya tentunya anda pernah melihat iklan Oreo yang pakai kupluk, selimut, lalu diputar, dijilat, dicelupin itu. Sama saja kasusnya. Memang, dalam kehidupan postmodern ini terkadang manusia butuh hal-hal yang terlihat uniiik, asyiiiik, sekaligus mungkin terlihat bodoh dan benar-benar tidak menyentuh substansi. Bendanya boleh sama tapi dengan packaging yang berbeda tentunya akan menimbulkan perhatian yang berbeda pula. 10% bentuk, 90% imajinasi.

Namun dari hal tersebut sekali lagi saya melihat bahwa sesuatu yang ‘besar’ itu tidak pernah mempedulikan perbedaan. Bisa berkumpul dengan apa saja, siapa saja. Bahkan dalam kasus ini dia ikut mengangkat derajat si arang yang nasibnya selalu berada di bawah tungku menjadi jauh di atas tungku, sampai masuk Kraton. Sesuatu yang ‘besar’ itu tidak pernah mempedulikan perbedaan sekaligus membuat sebuah perbedaan yang besar. Membuat sesuatu yang biasa menjadi unik dan menarik. From zero to hero. Debu jadi permata, hina jadi mulia.

Seorang motivator yang terkenal superrr sekali itu seringkali mewanti-wanti agar kita dalam bergaul itu harus memilih. Bergaul tanpa pilih-pilih itu menurutnya merupakan nasehat yang sangat sesat dan menyesatkan. Sebab menurutnya, citra yang terbentuk pada seseorang juga sangat dipengaruhi oleh orang-orang di sekelilingnya. Para ulama, kyai, ustadz, guru agama, dari saya kecil sampai saya sebesar ini, masih saja mengandalkan peribahasa lawas. Kulit kambing itu kalau berteman dengan kayu bakal jadi bedug, sehari dipukul 5 kali. Tapi kalau berteman dengan kitab suci maka dia akan selalu dicium, dijunjung, dihormati. Atau orang-orang di sekitar saya juga sudah hapal diluar kepala peribahasa yang tidak kalah lawasnya. Kalau berteman dengan penjual minyak tanah maka kita akan bau minyak tanah tapi kalau berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan ikutan wangi.

Ya memang benar sekali apa yang dikatakan orang-orang itu. Kalau berteman dengan gali, bisa jadi kita ikutan menjadi gali atau setidaknya disangka gali. Sebaliknya kalau berteman dengan kyai maka pengetahuan dan pemahaman kita terhadap agama itu akan bertambah luas juga dalam atau minimal sholat kita akan bertambah khusyu’ karena selalu diingatkan akan kematian, juga selalu diingatkan betapa pedihnya siksa neraka.

Namun hal itu tampaknya tidak berlaku bagi manusia ‘besar’. Ya saya harus menjadi ‘manusia kopi’!!!…

 

You may say I'm a dreamer

But I'm not the only one

(Imagine, John Lennon)


Blog EntryMar 1, '12 12:37 PM
for everyone

   Ternyata ada juga di dunia ini orang yang memahami kopi itu secara tekstual. Hal ini cukup membuat keyakinan saya agak-agak terguncang, mempertanyakan apakah keyakinan saya terhadap kopi selama ini memang benar.

        Saya punya teman seangkatan kuliah. Jenis kelamin perempuan, tinggi rata-rata, berat sepertinya juga rata-rata. Yang lainnya saya tidak begitu tahu. Selalu mengaku berasal dari Manhattan. Maksudnya Magetan. Awalnya tidak terlalu akrab tapi kemudian menjadi agak akrab ketika sama-sama masuk studio tugas akhir alias skripsi. Saya suka berbincang dengannya. Oh ya jangan dulu berpikir terlalu jauh. Lagipula batasan tulisan ini kan tentang kopi. Saya suka saja mendengar logat Jawa Tengah-nya. Untuk orang yang terbiasa mendengar logat Jawa Timur-an yang terlalu lugas dan ceplas-ceplos, logatnya itu terdengar begitu unik dan berirama. Memang secara administratif Magetan masih masuk Jawa Timur, tetapi secara sosio-kultur cenderung lebih dekat ke Jawa Tengah karena memang letaknya di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.

         Sebagai seseorang yang sudah ditakdirkan menjadi perempuan tulen, tentunya teman ini sangat detail mempersiapkan segala sesuatunya selama berada di studio tugas akhir. Termasuk camilan. Stoknya banyak. Jadinya, kami, yang ditakdirkan menjadi laki-laki, yang selalu saja menggampangkan segala sesuatu, terlalu sering nunut camilan ke teman ini, juga teman perempuan lainnya. Termasuk juga masalah kopi.

Nah disini ini titik temunya permasalahan ini. Pada suatu hari, saya ingin minum kopi tapi tidak punya kopi. Saya benar-benar malas untuk keluar studio membeli kopi. Apalagi studio ada di lantai 3, semakin menyempurnakan rasa malas saya. Melihat teman perempuan ini sedang menikmati segelas kopi, saya pun mendekatinya. Hampir saja saya bilang, “Bapakmu pasti polisi, ya?”. Tapi tidak jadi saya katakan, saya kan mau minta kopi bukan mau mengurus surat tilang. Hampir juga saya katakan, “punya obeng? punya tang? punya dongkrak? punya bengkel? “ Ah saya kan mau minta kopi, memangnya saya ini mau servis sepeda motor.

            “Minta kopinya, dong,” kata saya dengan senyum terbaik yang saya miliki.

            Wah…ndak punya kopi aku,” katanya. Logatnya unik.

            Lho…tadi aku lihat masih banyak,” kata saya lagi. Agak khawatir.

            “Mana?…paling salah lihat kamu,” katanya lagi.

        Lha…yang tadi di dalam laci itu apa,” kata saya sedikit panik. Malas saya memikirkan harus turun naik lantai 3.

            “Mana?” katanya sambil membuka lacinya.

            Lha itu apa,” kata saya menunjuk stok kopi yang tidak bakal habis seminggu.

          Oalaaaaah…ini tho…ini bukan kopi…ini moccacinondak bilang dari tadi,” katanya lalu memberi saya kopi yang dianggapnya bukan kopi itu. Langsung 3 sachet.

          Saya langsung menghembuskan napas panjang. Tidak hanya logatnya saja yang unik, pemikirannya ternyata lebih unik. Tentunya pemikirannya tentang kopi.

            Moccacino itu kopi juga tho,” kata saya dengan nada heran, juga penasaran.

         Moccacino itu bukan kopi…kopi itu ya kopi kapal api, kopi torabika, kopi ireng,” begitu jelasnya.

             “Kopi ya kopi…moccacino ya moccacinoya beda tho,” tegasnya.

        “Kalau begitu cappucino juga bukan kopi,” kata saya tambah heran, juga semakin penasaran.

          Ya bukan…bagaimana tho kamu ini, begitu saja ndak bisa membedakan…apa mau cappucino juga…aku punya banyak lho,” katanya lagi.

         Ya sudahlah. Sepertinya bakal panjang kalau diteruskan. Toh cuma masalah kopi. Toh saya sudah mendapatkan apa yang saya inginkan. Sekaligus tiga sachet. Itu pun masih ditambah lagi dengan tawaran cappucinno. Tapi terus terang saja saya benar-benar takjub dengan pemikirannya tentang kopi ini. Saya jadi bertanya-tanya sendiri, apa memang saya yang salah atau memang dia yang benar. Ah sudahlah. Ini kan cuma masalah kopi saja. Tidak perlu diperdebatkan.

        Perbedaan pemahaman tentang kopi bukanlah masalah besar, bukan masalah prinsip. Namun dalam kehidupan ini, seringkali kita menemukan diri kita terjebak dalam konfik karena perbedaan pemahaman tentang sesuatu yang benar-benar prinsip. Dan seringkali perbedaan itu disebabkan karena masalah tekstual. Di satu sisi ada yang memahami sesuatu itu seperti apa yang tertulis, sedangkan di sisi lain ada yang meyakini tidak cukup sekedar tekstual saja namun juga harus kontekstual. Hal ini banyak kita jumpai dalam kehidupan beragama. Entah antar agama atau bahkan sesama pemeluk agama itu sendiri. Permasalahan ini menjadi penyebab perdebatan panjang berabad-abad. Tidak pernah ada ujungnya. Dan tidak hanya sekedar berdebat sambil minum kopi saja tapi juga sering berujung pada kontak fisik. Ilmu agama saya memang dangkal. Tapi membunuh, menghina, menyakiti karena berbeda pandangan bukanlah hal yang bisa diterima dengan akal sehat orang awam sekalipun. Membunuh, menghina, menyakiti makhluk Tuhan itu sama saja merendahkan Tuhan itu sendiri. Bukankah begitu? Tapi entahlah...

         Lama tinggal di Jogja, saya sering kangen mendengar orang berbicara dengan logat Jawa Timur-an…


Blog EntryMar 1, '12 12:21 PM
for everyone

    Saya pernah mengalami kejadian bodoh yang berkaitan dengan kopi. Begini ceritanya…..

Seperti biasa, sepulang dari kuliah, saya langsung menuju himpunan kemahasiswaan. Di depan himpunan saya melihat salah seorang teman sedang sibuk membersihkan rapido. Rapido itu pulpen yang biasa digunakan untuk menggambar bangunan di kertas kalkir. Memang, rapido harus selalu dibersihkan setelah digunakan agar awet. Maklum saja barang impor, harganya relatif mahal.

Nah, di samping teman tadi saya melihat segelas ‘kopi’ yang asapnya masih ngebul. Tanpa basa-basi langsung saja saya seruput ‘kopi’ itu. Kan sudah saya katakan pada tulisan sebelumnya, kopimu adalah kopiku, join kopi jeh. Baru saja ‘kopi’ itu menyentuh lidah, belum sempat masuk tenggorokan, otak saya mengirim sinyal tertentu yang menyebabkan muka saya memperlihatkan tampang kebingungan. Tanda adanya benda tak dikenal masuk ke dalam tubuh. Saya rasa otak saya bingung memproses data yang masuk. Mata saya mengirim data bahwa isi gelas itu adalah kopi. Cair, warna hitam, asap ngebul. Apalagi kalau bukan kopi.  Sedangkan lidah saya mengirimkan data yang berbeda, memang pahit tapi bukan pahitnya kopi. Artinya isi gelas itu memang bukan kopi. Saya lihat wajah teman saya memasang tampang heran tanda bahwa otaknya mengirimkan sebuah sinyal ke wajahnya, termasuk juga lidahnya.

Lho…lho…lho…itu bukan kopi…itu air bekas nyuci rapido,” begitu katanya masih dengan tampang heran. Mungkin otaknya juga bingung memproses data yang masuk. Kok bisa-bisanya ada orang yang mau minum tinta rapido. Sesaat kemudian teman ini tertawa terbahak-bahak. Wajar. Kejadian yang bagi saya merupakan kejadian bodoh itu, baginya merupakan peristiwa langka dan unik sekaligus sangat lucu. Ya sebuah peristiwa memang akan mengundang reaksi yang berbeda-beda. Tergantung dari mana dan bagaimana kita memandang peristiwa itu.

Btw…bagaimana ya rasanya minum tinta rapido,” begitu katanya sambil terus saja tertawa terbahak-bahak.

“Makanya punya mulut dipakai…mbok ya tanya-tanya dulu…untung saja bukan racun,” lanjutnya. Terus saja tertawa.

Saya diam saja, mangkel. Mangkel kepada diri saya sendiri yang tidak hati-hati.

Namun bukan saya saja yang punya pengalaman bodoh berkaitan dengan kopi. Seorang teman pun pernah mengalaminya. Begini juga ceritanya…..

Sepulang bertamasya dari Pulau Sempu biasanya teman-teman selalu membawa oleh-oleh pasir. Pasir itu biasanya dimasukkan dalam botol air mineral. Pasir yang dimasukkan dalam botol itu sekilas memang mirip kopi pabrikan, seperti mocacino atau cappucino, karena warnanya yang putih kecoklatan. Nah, dari sinilah cerita itu berawal. Salah seorang teman terlihat begitu antusias mendapati botol yang berisi pasir tersebut.

Waaaah…kopinya siapa ini…banyak sekali,” begitu serunya pelan dengan logat Batak. Maklum saja teman ini memang berasal dari Batak. Tapi, berkali-kali saya bertemu orang Batak, cuma yang satu ini yang benar-benar lemah lembut, baik tutur katanya maupun pemilihan bahasanya. Juga tidak pernah marah. Selalu tersenyum ketika menghadapi masalah. Makanya teman-teman selalu menjulukinya Batak Karo. Batak karo Solo.

Wah iya Jo…itu baru tak bawain dari rumah,” begitu jawab seorang teman dengan nada bercanda karena menganggap teman tadi juga bercanda. Semua juga tahu bahwa isi botol itu adalah pasir.

Tapi tidak dinyana, teman tadi menganggapnya serius. Segera saja dia menyalakan heater, lalu mengumpulkan gelas-gelas kotor kemudian menuju musholla untuk membersihkan gelas-gelas itu. Saya masuk ke dalam himpunan tepat ketika teman ini sedang memasukkan pasir itu ke dalam gelas. Saya langsung pasang tampang sangat heran. Bertanya-tanya dalam hati apakah si teman ini sedang melakukan sebuah eksperimen atau sejenisnya. Maklum saja anak arsitek itu terkadang suka bertingkah aneh. Awalnya saya biarkan saja, namun saya juga tidak mampu menahan rasa penasaran saya. Maklum saja, saya ini tipikal orang yang selalu saja tertarik dengan hal-hal yang berbau eksperimental.

“Lagi ngapain Jo?” tanya saya sangat penasaran.

“Ini Ril…ada yang bawa kopi…banyak sekali…” jawabnya penuh suka cita. Senyum lebar menghiasi wajahnya.

Rasa penasaran saya langsung saja hilang dalam sekejap, berganti rasa iba. Terenyuh hati saya. Saya lihat semua orang yang berada dalam himpunan terlihat seperti sedang menahan tawa. Ya memang mereka sedang menahan tawa. Rasa kasihan saya cuma bertahan sebentar, berganti lagi dengan perasaan geli.

Walaaaah Jo…itu bukan kopi…itu pasir Sempu,” jelas saya dengan logat Batak. Meledaklah tawa seisi himpunan.

Wah…coba kamu biarkan saja dulu,” begitu kata seorang teman kepada saya sambil terus saja tertawa. Sifat dasar manusia, selalu senang melihat orang susah.

Untuk membiarkannya melanjutkan kebodohan itu saya juga tidak tega. Saya juga pernah merasakan betapa sakitnya hati tertipu kopi. Benar-benar sakit Jenderal !!!

Ya…tidak semua benda cair berwarna hitam dalam gelas dengan asap ngebul itu adalah kopi. Apalagi pasir. Pasir bukan kopi. Sekalipun pasir itu berasal dari Sempu, pulau mungil yang teramat indah.

Memang dunia ini dianugerahi dengan banyak kebaikan, tapi juga dipenuhi dengan sejuta tipu daya dan bujuk rayu. Menuntut kita untuk selalu hati-hati dalam melangkah. Ya…Tidak semua benda yang berkilauan itu adalah emas…

 

There's a lady who's sure all that glitters is gold

And she's buying a stairway to heaven.

(Stairway To Heaven, Led Zeppelin)


Blog EntryFeb 24, '12 1:51 PM
for everyone

setiap saat… setiap waktu

kamu selalu menemani aku

meskipun hitam tapi banyak yang suka

bersama teman teman ku menikmatimu

 

hu la la la la   kopimu  kopiku

hu la la la la   join join kopi

hu la la la la   arti sahabat

hu la la la la   tak ternilai harganya


            Pernah dengar lagu di atas? Ya…itu lagu ‘Join Kopi’-nya Blackout. Mungkin anda juga pernah mengalami apa yang diceritakan dalam lagu tersebut. Mungkin dulu, semasa ‘muda’. Dulu saya juga terlalu sering mengalaminya. Di mana semua mulut minum kopi dari gelas yang sama. Sebuah simbol perbedaan yang menyatu dalam kebersamaan. Lupakan dulu penyakit menular. Lupakan juga perbedaan latar belakang. Mari kita rayakan kebersamaan. Mari kita nikmati indahnya perbedaan. Mari kita syukuri betapa tak ternilainya arti persahabatan. Ya…kopimu adalah kopiku…mari join kopi…


Blog EntryFeb 24, '12 1:47 PM
for everyone

   Kalau sedang minum kopi, selalu saja saya membayangkan Mamak, ibu saya. Ya…selalu terbayang wajah beliau. Apakah karena saya sangat menyayangi Mamak? Sehingga saat minum kopi pun terbayang wajahnya. Saya rasa saling menyayangi antara anak dan orang tua itu hal yang wajar, alami, pantas. Bukan sebuah kewajiban atau keharusan. Bukan karena beliau mengandung, melahirkan, membesarkan saya dengan penuh kasih sayang lalu saya menyayangi beliau. Kalau saya menyayangi beliau karena hal-hal itu ya sama saja seperti orang yang berdagang. Seperti orang yang berbisnis. Saya melakukan sesuatu karena saya diberikan sesuatu. Saya membalas karena saya untung. Saya rasa hubungan anak dan orang tua itu bukan hubungan bisnis atau dagang.

            Ya…bukan karena hal-hal tersebut yang menyebabkan ketika minum kopi saya selalu ingat wajah beliau. Dulu, di rumah, mungkin juga sampai sekarang, Mamak kalau benar-benar tidak dalam keadaan sangat terpaksa, beliau itu benar-benar anti kopi pabrikan. Harus beliau sendiri yang memproses kopi, dari biji kopi hingga menjadi bubuk kopi. Semua diproses secara tradisional sehingga rasa kopi racikan beliau benar-benar khas.

            Biji kopi, beras, potongan kelapa dan pala disangrai menggunakan wajan besar dari tanah liat. Dan harus menggunakan kayu bakar. Kayu bakarnya pun harus kayu keras, sehingga panasnya stabil. Ketika bahan-bahan itu mulai berwarna cokelat tua, potongan jahe dimasukkan. Lalu ketika bahan-bahan hampir berwarna kehitaman, potongan kayu manis dimasukkan. Ketika semua bahan sudah benar-benar hitam, kecuali kayu manis yang masih berwarna cokelat tua, semua bahan-bahan diangkat. Kemudian semua bahan-bahan itu ditumbuk menggunakan alu dan lesung kayu yang entah sudah berapa turunan diwariskan. Nah, jatah kami, anak-anak Mamak, yang menumbuk bahan-bahan itu.  Tumbukan itu kemudian disaring. Hasil saringan pertama itu yang terbaik, warnanya coklat muda, mungkin efek dari kayu manis. Biasanya Mamak menyimpan saringan pertama dalam toples yang berbeda. Hasil penyaringan berikutnya biasanya sudah berwarna agak kehitaman. Mamak hanya menyaring sampai 3 kali saja, tidak sampai habis. Untuk menjaga cita rasa, begitu kata beliau.

            Saya seringkali ‘membolos’ dari acara tumbuk-menumbuk ini. Menumbuk kopi itu merupakan kegiatan yang benar-benar membosankan, terlalu monoton. Sama seperti orang lari-lari di tempat. Ditambah lagi alu yang digunakan untuk menumbuk itu benar-benar berat, entah dari kayu jenis apa. Walhasil, kalau saya sudah melihat Mamak menyiapkan bahan-bahan kopi, pagi-pagi sekali saya keluar main dengan teman-teman. Sering juga saya bilang ke Mamak kenapa tidak digiling saja pakai heler di pasar, kan lebih cepat, juga tidak capek. “Mana bisa enak rasanya kopi yang digiling pakai mesin,” begitu kata beliau selalu.

            Memang, sesuatu yang bernilai tinggi itu seringkali harus melalui proses yang rumit, melelahkan, bertele-tele, tidak praktis, tidak efektif dan efisien dilihat dari sudut pandang kekinian. Pernah saya dengar dari iklan salah satu air mineral ternama yang mengatakan untuk menghasilkan air mimun berkualitas tinggi mereka sampai harus melakukan 27 kali penyaringan. Luar biasa!!! Saya selalu membayangkan air itu awalnya 27 liter setelah diproses jadinya cuma 1 liter. Pantas saja harganya paling mahal.

            Jauh dari rumah begini, saya selalu kangen kopi racikan Mamak… 


Blog EntryFeb 24, '12 12:58 PM
for everyone

   Ada beberapa hal yang menyebabkan saya memilih kamar kost di lantai 3, lantai paling atas. Yang pertama karena lantai 3 lebih leluasa mendapat sinar matahari maupun udara, lebih lega saja rasanya dibanding lantai di bawahnya. Ini artinya kamar di lantai 3 paling memenuhi standar tempat tinggal yang sehat. Lalu, pemandangan dari lantai 3 benar-benar luas, juga terkadang menakjubkan. Jika cuaca sedang bersahabat, dari arah utara kita akan merasa iri melihat betapa romantisnya Mbah Merapi yang sedang berpacaran dengan Merbabu. Sebaliknya kita juga dapat menyaksikan dengan jelas betapa mengerikannya Mbah Merapi jika sedang mengamuk. Ke arah barat laut samar-samar kita dapat mengagumi betapa anggunnya Sindoro. Seringkali sebagian besar penghuni kost berkumpul di sore hari hanya untuk menyaksikan warna-warna menakjubkan yang ditinggalkan sang matari ketika turun ke peraduannya. Benar-benar indah.

Alasan terakhir tapi merupakan alasan yang paling utama itu tentunya masalah harga. Harga sewa kamar di lantai 3 memang paling murah daripada kamar di lantai 1 maupun 2. Bedanya pun cukup signifikan. Namun memang wajar kalau lantai 3 harga sewanya paling murah. Pertama karena jarak tempuh. Naik turun lantai 3 tentunya memerlukan energi ekstra. Yang kedua karena masalah keamanan. Tentunya banyak yang sudah tahu jika Jogja kerap dilanda gempa bumi. Lantai teratas tentunya yang memiliki tingkat keamanan paling rendah jika dikaitkan lagi dengan jarak tempuh itu tadi. Walaupun sebenarnya alasan keamanan ini terlalu dibuat-buat. Setiap lantai memiliki resiko yang sama saja jika memang bangunan itu tidak tahan gempa. Toh masalah hidup mati kan sudah ada yang paling berhak mengaturnya.

Alasan jarak tempuh maupun keamanan itu tadi menyebabkan komposisi penghuni tiap lantai menjadi berbeda. Lantai 1 kebanyakan dihuni oleh bapak-bapak yang sudah malas lagi untuk turun naik. Juga punya anak istri yang setia menunggu di rumah. Siapa yang memberi mereka makan kalau misalnya dapat celaka karena gempa. Lantai 2 kebanyakan anak muda namun masih ada bapak-bapak. Sedangkan lantai 3 sepenuhnya dikuasai oleh anak muda yang benar-benar memiliki semangat tinggi tapi dengan ‘harga tawar’ yang benar-benar rendah. Juga punya pemahaman konsep kematian yang paling pasrah. Ah…hidup mati itu kan urusan Tuhan. Jangankan gempa, bersin saja bisa mati kalau memang sudah waktunya mati. Maklum belum punya anak istri yang setia menunggu di rumah.

Komposisi penghuni tersebut juga mengakibatkan karakter yang berbeda-beda di tiap lantai. Lantai 1 benar-benar bersih, rapi dan tenang. Musik yang terdengar dari lantai 1 cenderung musik pop lawas. Lantai 2 masih lumayan bersih, mulai ada keramaian, musik yang diputar cenderung musik pop terbaru atau slow rock. Sedangkan lantai 3 benar-benar sembrawut, hingar-bingar, dan campur aduk. Metal, punk, reggae, melayu, progresif, sampai dangdut koplo dapat dinikmati di lantai ini. Bahkan suara merdu As Sudais pun kerap terdengar. Terutama akhir bulan. Ah…kelas sosial itu memang suatu yang alami. Dari keadaan kost ini saja bisa di dapatkan jawaban kenapa USSR yang begitu digdaya itu akhirnya hancur berkeping-keping. Sama rata, sama rasa itu memang bukan jatahnya dunia, tapi nanti di akherat, di surga atau neraka. Sama-sama bahagia atau sama-sama tersiksa.

Namun bagaimanapun komposisi dan karakter penghuninya, yang jelas hampir semua penghuni kost memiliki televisi. Ya…memang sekarang harga televisi sudah terlalu terjangkau bahkan untuk golongan yang mengaku miskin sekalipun. Apalagi mahasiswa. Mahasiswa bukanlah golongan orang miskin. Walaupun sering mengaku miskin. terutama dihadapan Pak Polantas, saat kena tilang. Ditambah lagi stasiun televisi sekarang jumlahnya cukup banyak. Dulu cuma ada TVRI, itu dengan jam tayang yang benar-benar terbatas, juga substansi acara yang sudah dibatasi. Sekarang siaran televisi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun, non stop. Acaranya pun beraneka ragam, macam-macam, rupa-rupa. Benar-benar menghipnotis pemirsa. Televisi sekarang benar-benar sudah menjadi kebutuhan pokok, primer, setara dengan sandang, pangan, maupun papan.

Saya pribadi bukan termasuk orang yang menganggap televisi itu sebuah kebutuhan primer. Kalau tidak benar-benar menganggur saya tidak akan nonton televisi. Ini masalah kebiasaan saja sebenarnya. Dari kecil memang saya tidak terlalu terbiasa berlama-lama menonton televisi. Bukan karena keluarga kami tidak punya televisi. Di kampung kami dulu cuma sedikit saja yang punya televisi, salah satunya keluarga kami. Ya…cuma masalah kebiasaan saja. Ditambah lagi Bapak selalu bilang, televisi itu berbahaya. Kalau kita tidak hati-hati menggunakan benda yang satu ini maka bisa kita sendiri yang benar-benar dirugikan. Ya…hukum kesimbangan. Sesuatu yang punya potensi besar jika digunakan sebaik-baiknya akan mendatangkan keuntungan besar sebaliknya jika salah menggunakan akan berbalik menjadi malapetaka besar.

Saya sudah hafal diluar kepala apa yang dikatakan Bapak jika kebetulan beliau didaulat untuk memberikan kata sambutan atau ceramah atau pidato yang berhubungan dengan tema pendidikan, pasti ‘televisi’ inilah menjadi andalan beliau. Dapat dipastikan beliau akan membuka pidatonya dengan kata-kata yang selalu senada.

“Ada sebuah benda yang benar-benar berbahaya yang telah merasuki kehidupan kita…tanpa kita sadari kita membiarkan benda itu ada di depan anak-anak kita, bahkan masuk hingga kamar tidur kita…tahukan anda apa benda itu?” begitu kata Bapak beretorika.

Di sini Bapak berhenti sejenak, mengedarkan pandangannya kepada para hadirin. Salah satu metoda untuk menguasai forum, begitu menurut teori berpidato. Bagi orang yang baru mendengar tentunya akan merasa tertarik dan sangat penasaran. Bayangkan saja, ada benda yang benar-benar berbahaya masuk sampai ke kamar tidur tapi kita tidak pernah menyadarinya. Tapi bagi orang yang sudah pernah mendengar tentunya bukan suatu hal yang menarik lagi. Dan saya sendiri yakin kebanyakan hadirin sudah pernah mendengar pidato ‘televisi’ ini. Berkali-kali saya rasa.

“Benda itu adalah televisi,” begitu lanjut beliau dengan penekanan pada kata ‘televisi’.

Dan pidato ‘televisi’ bukan hanya hiasan bibir saja. Waktu kecil, televisi di rumah selalu saja tidak beres gambarnya. Dan juga sangat pelit warna, padahal televisi berwarna. Kadang hari ini cuma keluar warna merah saja, besok cuma birunya saja. Seperti printer yang cartridges-nya rusak. Bahkan terkadang tidak ada warnanya sama sekali. Dan kadang televisi itu harus perlakukan dengan kasar, harus dipukul-pukul terlebih dahulu baru keluar gambarnya. Siapa yang mau nonton televisi ‘aneh’ seperti itu. Televisi itu baru ‘normal’, punya gambarnya bagus dan warna lengkap, kalau datang piala dunia yang 4 tahun sekali itu saja. Dan beberapa hari setelah piala dunia dapat dipastikan tidak beres lagi. Aneh juga. Setelah kami, anak-anaknya, beranjak dewasa, barulah Bapak membeli televisi yang benar-benar ‘normal’, dengan layar yang lumayan besar.

Dan sampai sekarang hal itu menjadi kebiasaan bagi saya. Sepertinya cuma sepak bola saja acara televisi yang penting bagi saya. Itu pun saya baru benar-benar serius menonton sepak bola kalau yang berlaga itu AC Milan atau Arema, sebelum Arema pecah jadi 2 tentunya. Walaupun begitu, menurut saya pribadi, televisi bukanlah benda yang sangat berbahaya seperti yang Bapak katakan itu. Tohremote kan ada di tangan kita. Kalaupun acara yang ditayangkan tidak sesuai dengan selera atau bertentangan dengan prinsip dan keyakinan, kan tinggal pencet tombol pindah channel yang lain. Masih banyak kok acara-acara yang benar-benar berguna. Kalaupun mentok tidak ada yang sesuai selera ya tinggal pencet tombol off saja. Gampang tho.

Televisi bagi saya memang bukan masalah. Tergantung yang memegang remote saja. Bagi saya yang menjadi masalah itu justeru antenanya. Lho…bagaimana mungkin antena bisa jadi masalah? Seperti yang saya katakan di awal tadi. Ada tiga alasan bagi saya memilih kamar di lantai 3. Namun setelah berjalannya waktu, cuma alasan pemandangan luas yang bisa di dapatkan dari lantai 3 yang paling masuk akal bagi saya. Minum kopi pagi-pagi sambil memandang Merapi – Merbabu – Sindoro atau berkumpul ramai-ramai di sore hari dengan penghuni kost bercanda sambil memandang ke arah barat mengagumi warna-warna yang menakjubkan merupakan alasan sebenarnya kenapa saya harus memilih kamar di lantai 3. Kalaupun seandainya pemilik kost merayu saya untuk pindah kamar ke lantai 1 atau 2 dengan harga sewa yang jauh lebih murah maka akan saya tolak.

Tapi itu dulu, sekarang pemandangan-pemandangan indah itu terhalangi dengan munculnya antena-antena televisi yang beraneka rupa, ukuran maupun warna itu. Mau di manapun televisinya, entah di lantai 1 atau 2, antenanya pasti sampai ke lantai 3. Wajar juga sebenarnya. Untuk mendapat gambar terbaik, antena tentunya harus diletakkan di tempat yang tidak terhalangi dari segala arah sehingga gelombang yang dipancarkan dari menara relay bisa tertangkap sempurna. Di mana lagi tempat yang tidak ada penghalangnya kecuali lantai 3. Lantai lainnya, jangankan gelombang elektromagnetik, sinar matahari dan udara saja merasa tersesat.

Sekarang, ke arah mana pun saya memandang yang terlihat hanya antena. Saya rasa antena bukanlah benda yang indah dipandang mata. Apalagi minum kopi sambil memandang antena. Kegiatan yang aneh.

 

*********

 

Beberapa hari lalu ada penghuni kost baru. Kemarin saya lihat dia membawa kardus besar. Televisi tebak saya. Artinya ada antena baru juga yang akan terpasang di lantai 3. Benar saja, tadi siang ketika saya dengan asyik berkhayal di depan kamar, penghuni baru itu menyapa saya. Saya sampai terkaget-kaget.

Wah…siang bolong gini kok melamun Mas…hati-hati ntar kesambet lho,” begitu sapanya ramah dengan senyum lebar. Tangannya memegang antena.

Saya cuma tersenyum saja. Masih kaget.

“Permisi Mas ya…saya mau masang antena…enaknya di mana Mas ya,” lanjutnya meminta saran.

“Di situ saja Mas…kayaknya masih bisa satu di situ,” jawab saya.

“Butuh bantuan Mas,” lanjut saya sekedar basa-basi.

Wah…ndak usah repot-repot Mas…saya bisa sendiri kok…,” jawabnya.

Satu lagi antena terpasang. Pemandangan ke arah Merapi – Merbabu sekarang terhalangi dengan sempurna. Tapi setidaknya kamar di lantai 3 lebih leluasa mendapat sinar matahari dan udara, juga harga sewanya lebih murah…


Blog EntryFeb 12, '12 2:43 PM
for everyone

    Siapa yang tidak suka kopi? mungkin banyak. Tapi saya yakin banyak juga yang benar-benar suka kopi. Tidak peduli gender, golongan, ras, suku, agama, status sosial, partai politik. Dari anak kecil sampai orang tua, dari pengemis sampai presiden, dari orang kere sampai triliuner, dari buruh sampai menejer, dari penjahat sampai yang benar-benar alim.

            Juga tidak peduli situasi maupun kondisi. Mau siang, mau malam, pagi, subuh, sore, panas, dingin, sedang senang atau juga sedang sedih, di tengah samudra atau di puncak gunung. Kopi selalu siap menemani.

            Sekali lagi saya katakaan, sesuatu yang ‘besar’ itu memang tidak pernah mempedulikan perbedaan, bisa diterima siapa saja, dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun. Saya benar-benar ingin menjadi ‘manusia kopi’…


Blog EntryFeb 12, '12 2:39 PM
for everyone

    Saya rasa anda-anda pasti sudah familiar dengan kalimat ajakan, “Ayooo ngopiiii…”. Ajakan yang hampir pasti selalu disambut hangat. Dan istilah ‘ngopi’ itu sendiri tidak harus selalu berarti minum kopi. Kadang nantinya cuma sedikit saja yang benar-benar memesan kopi. Lainnya ada yang memesan jus, soda gembira, josua, es teh, teh hangat, mega mendung, vanilla latte, lemos squash, dan lain-lain. Bahkan seringkali tidak ada yang benar-benar memesan kopi. Aneh memang.

            Ya…’ngopi’ itu sendiri maknanya telah meluas dari sekedar minum kopi menjadi sebuah kegiatan berkumpul dengan sahabat dalam keadaan gembira maupun ketika ada masalah. Sehingga warung kopi pun sekarang tidak hanya menjual kopi saja, lengkap juga dengan aneka makanan. Dan dari kegiatan ‘ngopi’ yang terkadang tidak ada kopinya sama sekali itu kita bisa semakin mengenal satu sama lain yang tentunya akan semakin mempererat rasa persahabatan itu sendiri, bisa saling mengerti, menghargai, menghormati satu sama lain. Bahkan kadang-kadang kita bisa mendapat sahabat baru dari kegiatan ‘ngopi’ ini. Terlalu sering saya mendengar kalimat, “dia itu sabahat saya, teman ngopi dulu…”.

Persahabatan itu seperti kopi, harum dan benar-benar nikmat. Bukankah begitu, kawan?


Blog EntryFeb 12, '12 2:31 PM
for everyone

            Ada kopi tubruk, ada kopi luwak, ada kopi joss, ada kopi Tambora, ada kopi Toraja, ada kopi Bali, ada kopi cete, ada kopi unyil, ada kopi susu, ada capucino, ada moccacino, ada kopi jahe, ada kopi arabika, ada kopi robusta, ada kopi jalanan, ada kopi lanang, ada kopi vietkong, ada esspreso, ada coffecream, dan lain-lain. Ada banyak macam kopi. Entah jenisnya, entah asal usulnya, entah campurannya, entah cara membuatnya atau sekedar pemberian nama dari penjualnya. Namun apapun itu, orang-orang tetap menyebutnya kopi. Ya...tetap kopi.

            Memang sesuatu yang ‘besar’ itu tidak akan pernah kehilangan identitasnya walaupun bercampur dengan apapun, walaupun ditarik kemanapun, dengan cara apapun. Seperti halnya kopi, bisa membaur dengan apapun, dimanapun, tanpa pernah kehilangan jati diri. Begitu juga halnya dengan manusia ‘besar’, bisa membaur dengan siapapun, dimanapun, bisa menghormati dan menghargai perbedaan, tanpa harus kehilangan identitasnya, tanpa harus mengorbankan prinsip hidupnya. Saya ingin menjadi ‘manusia kopi’…


Blog EntryFeb 12, '12 2:25 PM
for everyone

Saya ini pelupa. Sepertinya akhir-akhir ini semakin sering saja. Mungkin terkait bertambahnya usia, mungkin juga karena terlalu banyak pikiran atau malah tidak berpikir sama sekali. Tapi saya rasa itu hal yang wajar selama masih dalam batas kewajaran. Bukankah manusia itu tempatnya salah dan lupa, bukan?

Misalnya pernah saya mondar mandir cukup lama mencari pensil padahal pensil itu sedang saya pegang, atau saya hampir saja selalu lupa kalau sudah menyeduh kopi. Akhirnya kopi itu dingin. Kopi dingin sebenarnya bukan masalah, tetap saja nikmat walaupun memang jauh lebih nikmat kalau masih panas. Tapi yang jadi masalah itu adalah semut. Kopi yang sudah dingin itu selalu saja dikerubungi banyak semut. Sebagian besar malah sudah mati tenggelam dalam kopi itu. Akhirnya kopi itu saya buang saja. Sayang sebenarnya. Tapi siapa yang mau minum kopi yang banyak semutnya.

Sebenarnya untuk mengatasi masalah semut ini saya punya sebuah metoda, yaitu menuangkan kopi di lantai dalam jumlah yang saya rasa cukuplah untuk ratusan bahkan ribuan semut. Jadi, mereka tidak perlu ikut-ikutan minum kopi dari gelas saya. Toh tidak mungkin juga mereka bisa menghabiskan isi gelas itu. Apalagi saya pikir minum kopi yang saya tuangkan di lantai jauh lebih gampang daripada harus susah-susah naik turun gelas. Resiko untuk kehilangan nyawa juga jauh lebih kecil. Berkali-kali saya mencoba metoda ini. Berharap semut-semut itu mengerti bahwa jatah mereka yang ada di lantai bukan yang di gelas. Tapi selalu saja gagal. Sepertinya memang pikiran manusia dan semut itu tidak bisa sejalan.

Yang jelas, ada sebuah pelajaran yang saya dapatkan ketika memperhatikan semut-semut yang tenggelam dalam kopi itu. Sebagian besar benar-benar sudah mati, sebagian kecil menggapai-gapaikan kakinya seperti sedang meminta tolong. Kadang saya tolong juga walaupun sebenarnya saya merasa sangat aneh menolong semut itu. Dan saya pikir, seperti halnya semut-semut itu, manusia juga memiliki sifat dasar yang tidak pernah puas. Selalu ingin lebih, tanpa pernah mempedulikan kemampuan juga kebutuhan. Pokoknya ingin, entah keinginan itu memang sesuai dengan kemampuan atau juga apakah keinginan itu memang benar-benar dibutuhkan. Segala cara manusia lakukan untuk mencapai keinginan-keinginannya itu, entah baik atau buruk, namun sepertinya kebanyakan dengan cara-cara yang tidak patut. Yang pada akhirnya nanti, kebanyakan manusia pun mati tenggelam dalam keinginan-keinginannya itu. Benar-benar ironis dan menyedihkan.

Terkadang penyesalan itu ada manfaatnya juga. Sebagai pelajaran untuk hari depan, agar nantinya tidak terjatuh pada lubang yang sama. Tapi menyesal tidak banyak berarti ketika maut menjelang. Saya tidak tahu apakah semut-semut yang mati tenggelam dalam kopi itu menyesal sesaat menjelang kematiannya. Ah…semut mana mungkin menyesal…


Blog EntryDec 18, '11 7:57 PM
for everyone

Awalnya cuma satu dua orang saja pemulung yang duduk-duduk di tanah kosong samping kuburan, depan masjid itu. Mungkin mereka melepas lelah setelah seharian mengais rejeki dari tumpukan sampah. Lama kelamaan, semakin banyak saja mereka berkumpul di tanah kosong itu. Tidak sekedar melepas lelah lagi, tapi juga menggunakan tanah kosong itu sebagai tempat memilah-milah sampah yang mereka kumpulkan. Lalu satu atau dua orang di antara mereka yang punya kreatifitas, mungkin mendapat ilham untuk mendirikan shelter darurat di atas tanah kosong itu. Shelter darurat dari bambu, beratap terpal bekas, berdinding kardus atau spanduk bekas. Melihat hal itu mungkin yang lain seperti mendapat inspirasi untuk melakukan hal serupa. Walhasil dalam waktu singkat belasan shelter darurat pun berdiri di atas tanah yang sebelumnya kosong itu, seakan-akan jatuh begitu saja dari langit. Benar-benar kontras dengan masjid mewah yang berdiri gagah di depannya. Shelter-shelter darurat itu seakan-akan seperti kawulo-kawulo yang sedang bersimpuh dalam di kaki Gustinya yang agung. Kuburan yang ada di sampingnya pun kini menguap keangkerannya. Maklum saja, anak-anak para pemulung itu menggunakan kuburan itu layaknya taman bermain. Ironis.

Wah kalau begini caranya akan merusak keindahan kota,” begitu ujar teman saya dengan sengit sepulang dari masjid.

Lho…lho…ada apa ini, sepulang dari masjid kok ngomel-ngomel,” tanya saya penasaran.

“Itu lho, gubuk-gubuk pemulung di depan masjid…seenaknya saja mereka bikin gubuk kayak gitu…merusak pemandangan saja,” terangnya masih sengit.

Oalaahya mau bagaimana lagi, namanya juga orang terpaksa,” jawab saya adem ayem saja.

Ya tidak bisa begitu dong…harusnya masyarakat sadar kalau keindahan kota itu sangat penting artinya…keindahan kota itu merupakan hak asasi warga kota…perampasan terhadap hak asasi itu merupakan pelanggaran,” kata teman saya itu tambah sengit.

“Bagaimana mau sadar kalau perut lapar, bagaimana mau mengerti keindahan kota kalau mata nanar…lagi pula kalau ngomong hak asasi, hak asasi siapa sih sebenarnya yang terampas…mereka itu terpaksa jadi pemulung karena hak asasi mereka sebagai warga Negara ini benar-benar terampas…memangnya indah saja bisa bikin perut kenyang apa,” jawab saya agak sinis.

“Bisa Mas, Indah yang kost disebelah itu bisa bikin perut kenyang kok,” sambar Mario dengan senyum nakal.

Saya tertawa, teman saya menekuk muka.

Lagi pula, yang namanya keindahan itu kan debatable. Terkadang juga masalah selera. Seringkali merupakan masalah kebiasaan. Tapi tidak salah juga kalau kita menggunakan sedikit teori ilmiah untuk membahas masalah keindahan ini. Siapa sih yang tidak takjub dengan keindahan bangunan-bangunan klasik dengan pilar-pilar dorian maupun ionian yang kokoh dan serba matematis itu. Namun dalam teori klasik, misalnya kita ambil saja teori Vitruvius yang kesohor itu, masalah keindahan ini pun diletakkan pada urutan paling akhir. Memang penting tapi tetap saja keindahan itu masalah belakangan. Lalu dalam teori modern, keindahan itu adalah kejujuran. Terwakilkan dengan sangat lugas dalam semboyannya, ‘Form Follow Function’. Dan semboyan itu malah benar-benar cocok dengan shelter-shelter darurat itu. Bentuk yang benar-benar mencerminkan fungsinya. Tidak perlu bangunan megah semegah masjid yang ada di depannya tho kalau fungsinya hanya sebagai tempat menimbun sampah. Sebaliknya, masjid di depannya itu kan dibuat semegah-megahnya karena memang fungsinya sebagai tempat menyembah Tuhan. Tapi entah, entah tempat menyembah Tuhan atau justeru tempat mengurung Tuhan.

Lalu bagaimana dengan teori postmodern. Wah kalau teori ini sih benar-benar demoktratis. Keindahan itu ya sak karepmulah. Jadi, teori ini juga masih cocok dengan shelter darurat itu. Toh kalaupun kita bersepakat bahwa memang shelter-shelter darurat itu benar-benar tidak indah sekaligus merusak pemandangan. Saya rasa justeru sebenarnya penguasa negeri ini lah yang sangat tidak indah. Yang menyebabkan banyak rakyatnya terpaksa untuk tidak mengerti tentang keindahan.

Saya kenal beberapa penghuni shelter darurat itu. Ini karena salah satu penghuni shelter itu ternyata ada yang punya jiwa bisnis, membuka warung kecil yang menjual rokok eceran, gorengan juga kopi. Biasanya buka hingga pengeras suara masjid di depannya menyerukan,”sholat itu lebih baik dari tidur”. Jadi, ketika tengah malam saya kehabisan rokok, maka tempat itu jadi jujukan. Kadang juga kalau sedang tidak ada kerjaan saya ngopi di warung kecil itu.

“Saya ini terpaksa jadi pemulung…ya mau gimana lagi Mas, saya ini SD saja ndak lulus, mana bisa cari kerja yang pantas…pokoknya halal, daripada saya jadi preman atau maling,” begitu ujar Bambang salah satu penghuni shelter darurat itu berusaha menjelaskan keadaannya. Kami cepat akrab, mungkin karena usia kami yang sebaya.

“Sri, pacar saya pemulung juga Mas…dia sih pengennya jadi TKW, tapi jadi TKW itu kan biaya ndaftarnya ndak sedikit…uang dari mana…saya juga benar-benar takut kalau dia jadi TKW nanti disiksa…kayak Sumiati itu…untung dia masih hidup, ngeri saya lihat mukanya, tega banget majikannya, mosok bibir sampai digunting kayak gitu…takut saya Maslha Sumiati itu satu kampung dengan sampeyan thowes mending si Sri jadi pemulung sajalah…pokoknya halal, daripada jadi lonte,” lanjutnya. Tampaknya dia benar-benar menyayangi pacarnya. Cinta itu memang menembus batas, juga tanpa batas.

Entah kenapa, cerita semacam ini selalu saja saya dengar dimana saja saya bertemu orang-orang semacam Bambang ini. Tapi memang begitu kenyataannya. Lagi pula mana ada cerita lain lagi yang bisa disampaikan oleh kaum-kaum yang seumur hidupnya hanya menjadi batu pondasi piramida modern ini. Mimpi untuk mencapai tingkatan atas piramida pun mereka tidak berani. Tapi saya benar-benar kagum dengan keteguhan mereka memegang prinsip. Yang penting halal, yang penting halal, begitu ucap mereka berulang-ulang.

Namun ada fenomena unik yang saya temukan dalam komunitas ini. Terutama masalah telepon genggam. Rata-rata mereka memiliki telepon genggam yang tidak kalah canggih bila dibanding telepon genggam yang dimiliki rata-rata mahasiswa. Dan jauh berlipat-lipat lebih canggih daripada telepon genggam milik saya.

“Walaupun pemulung tapi kita juga kan harus eksis Mas,” kata Bambang suatu ketika.

Facebook-nya sampeyan apa Mas?” tanya Bambang.

Wah ndak punya facebook saya,” jawab saya. Saya memang tidak punya faceebook.

Mosok sih Maswah ndak gaul sampeyan ini…sebentar ya Mas, saya mau update status dulu,” kata Bambang lalu jari-jarinya dengan gerak cepat memencet keypad kesana kemari.

Kalimat yang terlalu sering saya dengar ketika orang tahu kalau saya tidak punya facebook.

Wah si Sri langsung ngomentari status saya Mas,” katanya senyum-senyum sendiri.

Lalu ketika saya mengeluarkan Nokia 5110, telepon genggam kesayangan saya, Bambang langsung tertawa terbahak-bahak.

Walaaaaaah Maaaas…henpon jaman kolo bendo masih dibawa-bawa…mantap ini Mas buat melempar maling…buat ganjelan pintu juga bisa…maaf lho Mas, bukan maksud saya menghina lho,” komentar Bambang lalu tertawa lagi. Saya juga ikut tertawa.

Kalimat semacam itu juga sudah terlalu sering saya dengar. Apa boleh buat.

 

**********

 

Malam itu saya kehabisan rokok, juga pengen ngopi. Seperti biasanya, langsung saja saya menuju shelter darurat itu. Namun alangkah terkejutnya saya karena tanah itu kosong melompong. Lho kapan pindahnya mereka. Bambang juga tidak pernah bilang kalau mau pindah. Langsung saja saya balik badan kembali ke kost. Kuburan di samping tanah yang kosong lagi itu tampak benar-benar menyeramkan, seakan-akan ingin menelan saya bulat-bulat.

Lho memangnya Mas tidak tahu kemarin gubuk-gubuk liar itu digusur polisi pamong praja…rame lho Massampe masuk tivi segala…katanya sih pemilik tanah itu mau bangun ruko...apa bisa laku ya ruko samping kuburan,” kata Mario memberi tahu.

Ngomong-ngomong, si Indah tadi sore lewat depan kost lho Maswow benar-benar seksi sekaleeee…sudah kayak menu KFC aja pokoknya…paha atas, paha bawah, dada…kenyang saya Mas,” lanjut Mario dengan muka mesum disertai senyuman nakal.

Saya diam saja. Mulut saya benar-benar masam…


Blog EntryDec 18, '11 7:53 PM
for everyone

Siapa yang tidak kenal gayung atau centong. Rata-rata orang Indonesia pasti mengenal benda yang satu ini. Tidak tiap hari anda bisa bertemu pacar anda atau bahkan istri anda, tapi tiap hari anda pasti bertemu dengan benda yang bernama gayung ini. Minimal dua kali sehari. Bisa juga lebih. Anda boleh lupa membawa handuk ketika mandi, boleh lupa membawa sabun, sampo, atau sikat gigi. Tapi pastikan benda ini benar-benar ada di tempatnya, apalagi kalau buang air besar. Pasti anda akan kebingungan dan salah tingkah ketika buang air besar lalu menyadari bahwa benda ini tidak ada di tempatnya, saya pernah mengalaminya. Benda ini memang benar-benar dekat dengan kehidupan manusia, juga kematian. Memandikan mayat juga mengunakan gayung. Bahkan saya lihat di televisi, benda ini pun jadi tema iklan salah satu operator kartu telpon selular.

Ayo bang,” kata Mario pagi itu sambil senyam-senyum di pintu kamar saya yang memang jarang saya tutup.

Ayo kemana,” jawab saya dengan sangat malas, masih mengantuk, tapi juga penasaran.

Ayo kita goyang gayung,” katanya menirukan iklan itu lengkap dengan gerakannya lalu tertawa terbahak-bahak, sepertinya bahagia sekali dia pagi-pagi bisa ngerjain orang.

Saya benar-benar mangkel, merutuk dalam hati, lalu menutup pintu yang jarang sekali saya tutup itu dengan gerak yang benar-benar apatis. Dan selama beberapa hari saya lihat hampir semua penghuni kost terdoktrin dengan iklan itu. Postmodern.

Dulu ketika masih di Malang, di rumah kontrakan saya kamar mandinya mengunakan shower, tapi shower itu kalah saing dengan kebersahajaan gayung. Shower itu pun jarang dipakai, tidak pernah dipakai tepatnya, dan akhirnya rusak. Di warnet langganan saya, klosetnya menggunakan kloset duduk yang ada flush-nya, tapi tetap saja pemilik warnet merasa harus menyediakan ember beserta gayungnya. Pernah juga saya berkunjung ke rumah teman saya. Kamar mandinya ada bathup-nya. Sejauh pengetahuan saya, bathup itu fungsinya untuk mandi dengan cara berendam. Bathup hampir pasti dilengkapi shower juga. Anehnya, di rumah teman saya itu bathup fungsinya tidak lebih dari sekedar bak mandi dan yang namanya bak mandi ya pasti berpasangan dengan gayung. Tentunya teman saya itu pun tahu fungsi bathup yang sebenarnya.

Ndak sreg rasanya kalau mandi ndak pakai gayung,” begitu alasan teman saya itu. Saya sangat setuju.

Ya memang begitu kenyataannya. Bagi sebagian besar orang Indonesia, pengertian mandi itu ya mengguyur, bukan menyiram, seperti halnya ketika anda mandi menggunakan shower, bukan juga berendam seperti halnya jika anda mandi mengunakan bathup. Yang disiram itu hanya tanaman, tentunya menyiram tanaman itu tidak dimaksudkan untuk memandikan tanaman. Sedangkan yang mandinya berendam itu ya cuma bayi. Terlalu kasar rasanya jika memandikan bayi dengan cara diguyur. Akhirnya benda-benda semacam shower atau bathup itu hanya berfungsi sebagai perhiasan saja, aksesoris saja, perlambang gengsi belaka. Tidak lebih dari itu. Mosok rumah gedong punya kamar mandi yang pakai bak dan gayung, kan gak mecing. Walaupun nantinya tetap saja gayung yang berjaya, bathup pun harus rela turun kasta, fungsinya tidak lebih dari sekedar bak penampungan air.

Kenyataannya, kebanyakan orang kaya di Indonesia itu pada awalnya juga orang miskin. Yang biasanya punya kisah masa kecil yang berlinangan air mata, misalnya jadi penjual pisang goreng, penjual es mambo, loper koran, atau pedagang asongan. Yang tentunya benar-benar tidak asing dengan benda bernama gayung. Yang tentunya juga punya pengertian bahwa yang namanya mandi itu ya mengguyur, bukan menyiram, bukan juga berendam. Hingga pada suatu ketika dia menjadi kaya, punya harta rupa-rupa, sikap aristokrat, gayung merupakan salah satu benda dari masa lalunya yang hampir dapat dipastikan bakal dibawanya, walaupun tentunya shower, bathup, kloset duduk ber-flush tetap menghiasi kamar mandinya. Maklum saja, menurut bisik-bisik para arsitek mengenai teori berarsitektur yang baik dan benar, benda-benda itu memenuhi standar kepantasan dan kepatutan untuk melengkapi kamar mandi rumah gedong. Harus ada walaupun entah nantinya berfungsi atau tidak, ada sekaligus tidak ada. Benda-benda itu juga diyakini mencerminkan semangat kekinian, modern, yang harus serba efektif dan efisien sekaligus absurd karena mungkin kurang memahami konteks kebudayaan.

Dan benda yang bernama gayung ini juga sempat menjadi permasalahan yang agak-agak serius sekaligus membingungkan di kost. Semua gayung yang ada di tiap kamar mandi kost keadaannya rusak parah. Ada yang pecah, ada yang bolong bahkan ada yang patah gagangnya. Dan yang paling membingungkan itu, seisi kost merasa heran dengan rusaknya benda itu. Benar-benar aneh. Gayung itu tidak mungkin tho bisa merusak dirinya sendiri. Pasti ada yang merusaknya. Sengaja atau tidak sengaja. Dan yang paling memungkinkan untuk merusak benda itu tentunya yang menggunakan gayung itu, ya penghuni kost itu sendiri, termasuk saya sendiri.

Awalnya saya juga tidak tahu mengenai kejadian itu. Saya bukan tipikal orang yang harus mandi sehari 2 kali. Bukan juga tipikal orang yang wajib mandi tiap hari. Saya menganggap mandi itu kebutuhan, bukan kewajiban. Kalau tidak butuh yang kenapa harus mandi. Bisa sampai 3 saya tidak mandi, kadang lebih. Kalau pun ada perasaan wajib, biasanya itu terjadi di hari jumat atau sehabis berolah raga. Dan pada hari itu, hari dimana saya merasa butuh mandi, saya menemukan gayung itu dalam keadaan rusak. Lalu saya pindah ke sebelah, rusak juga, cuma beda tipe rusaknya. Lalu ke sebelahnya lagi, rusak juga. Pindah lagi, rusak lagi. Dan saya sudah tidak mungkin pindah lagi.

Woiiiikok gayungnya rusak semua,” teriak saya di depan kamar mandi dengan memasang tampang garang.

Satu per satu penghuni kost keluar kamar masing-masing.

Nah itu dia Bang…aku juga heran kok bisa rusak, barengan lagi,” kata yang satu bernada heran.

 Wah ndak tau itu Mas…iya heran juga kok bisa rusak semua ya,” kata  yang satunya, juga heran.

“Iya…gimana sih cara pake-nya sampe bisa rusak begitu,” kata yang lain, sama, heran juga.

Mbohlahndak paham aku,” yang ini juga heran, benar-benar heran.

“Mungkin dirusak setan Kak…hiiiii…,” kalau yang ini ngawur. Mana ada setan menggoda gayung.

Intinya semua merasa heran. Dan saya pun jadi sangat bingung, sekaligus mangkel. Sepertinya memang benar setan yang merusak gayung-gayung itu. Setan yang berwujud manusia.

Dari televisi salah satu kamar kost terdengar iklan operator kartu selular yang dibintangi biduanita cantik yang sedang naik daun. "Ayooo kita goyang gayung, ayo kita goyang-goyang gayung...," begitu bunyi jinggel iklan itu. Dan saya pun tambah mangkel


Blog EntryDec 18, '11 7:50 PM
for everyone

Ada satu tempat yang harus saya datangi ketika memiliki kesempatan berkunjung ke kota Malang. Pos satpam, tepatnya pos satpam Teknik Brawijaya. Bagi saya pribadi, pos itu sudah saya anggap seperti rumah saja. Penghuninya pun saya anggap sebagai keluarga sendiri. Ada yang saya anggap sebagai bapak, paman atau kakak. Tentunya tidak ada satu pun yang saya anggap sebagai ibu atau bibi, ya karena memang semua penghuninya berjenis kelamin laki-laki. Begitu pun sebaliknya, saya, juga beberapa teman, dianggap sudah menjadi bagian dari pos satpam itu. Yang secara de facto memiliki hak menggunakan tempat itu, dari sekedar cangkruk, mengerjakan tugas hingga tidur, tanpa ada satu pun orang yang berani protes.

Ya kenyataannya memang begitu. Hampir setiap hari, terutama di malam hari, saya dan beberapa teman cangkruk di pos satpam itu. melakukan berbagai hal, dari yang tampaknya sia-sia seperti main catur, main kartu atau nyanyi-nyanyi diiringi gitar, hingga hal-hal yang agak berbobot, misalnya diskusi-diskusi disertai debat seru yang berkaitan dengan dunia akademis maupun yang berkaitan dengan idealisme anak muda atau juga mempersiapkan kegiatan-kegiatan yang menunjang peningkatan kualitas diri. Dan yang jelas juga, hampir setiap malam saya ada di tempat itu, walaupun cuma sendiri saja. Ya hampir setiap malam. Bahkan saat teman-teman sedang sibuk mempersiapkan diri mengahadapi ujian atau mengerjakan tugas besar, saya hampir bisa dipastikan selalu ada di situ. Bahkan dulu, ketika masih punya pacar, saya pun sering mengajak pacar saya berpacaran di tempat itu. Benar-benar tidak romantis ditinjau dari sudut pandang mana pun. Tapi setidaknya menurut saya, pacaran di pos satpam itu benar-benar aman, ya karena mungkin langsung diawasi satpam, tidak mungkin kena fitnah. Walalupun pada akhirnya mungkin menjadi salah satu penyebab tidak langgengnya hubungan itu. Ya wajar, pacaran kok di pos satpam, apa tidak ada tempat lain yang lebih representatif.

Lalu bagaimana ceritanya hingga hati saya terpaut pada tempat itu sekaligus juga kepada penghuni-penghuninya. Nah…hal ini tidak bisa saya jelaskan dengan pasti. Memang, salah satu misteri kehidupan itu adalah masalah pertemuan. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa meramal dengan jitu tentang pertemuan itu. Mana ada orang yang bisa dengan tepat merencanakan akan bertemu dengan siapa, akan berteman dengan siapa, punya istri siapa atau berapa, bahkan akan bermusuhan dengan siapa. Yang jelas kenyataannya, hati saya memang terpaut pada tempat itu, juga pada penghuninya. Kalau saya pikir-pikir, kenapa harus pos satpam? Kenapa harus satpam? Kenapa tidak perpustakaan atau laboratorium komputer berserta penghuninya saja? Tentunya lebih berkelas dan terkesan elegan. Tapi sekali lagi, kenyataannya memang begitu. Mau dipikir-pikir seperti apa, mau dibantah-bantah seperti apa juga kenyataannya tetap begitu. Toh tidak ada yang salah juga, kan?

Dan yang pasti, karena pos satpam inilah setidaknya saya punya sedikit warna unik, atau bahkan mungkin banyak, yang menghiasi perjalanan kehidupan saya. Juga sedikit keuntungan-keuntungan kecil yang bisa saya dapatkan. Misalnya ketika daftar ulang setiap semester, saya tidak perlu antri panjang. Cukup pagi-pagi saya menitipkan semua persyaratan administrasi pendaftaran ulang kepada Pak Dhe Pitono atau Pak ‘Ndut’ Martono atau Mas Gatot maka siang harinya KTM baru sudah ada di tangan. Berbau nepotisme tentunya…he…he…he…Lalu mengenal satpam juga membawa saya berkenalan dengan orang-orang administrasi. Jadi, untuk urusan surat menyurat yang biasanya ribet menjadi sedikit lebih gampang. Ini juga tentunya berbau nepotisme. Sering juga saya ditawari rupa-rupa beasiswa.

“Pokoknya sampeyan daftar saja mas, mau dobel juga ndak masalah, pasti dapat kok,” begitu kata orang-orang administrasi itu berulang-ulang.

Tawaran yang menggiurkan sebenarnya. Saya tidak pernah menolak, tapi juga tidak pernah benar-benar mendaftar. Saya rasa, orang tua saya masih mampu membiayai kuliah saya. Dan lagi, cukup sudah rakyat Negara ini yang urunan buat menggenapkan biaya pendidikan saya. Itu saja bagi saya sudah merupakan beban moril yang cukup berat. Jangan lagi ditambah-tambah dengan beasiswa-beasiswa itu. Untuk hal ini saya masih ingat dengan jelas perkataan seorang senior dimasa-masa awal menjadi mahasiswa.

“Kalian tahu kenapa biaya pendidikan kalian itu relatif murah, bahkan jauh lebih murah dari SPP anak playgroup jaman sekarang?” begitu tanya senior itu beretorika, lalu diam sejenak. Keadaan ruang benar-benar hening, bahkan hela nafas terdengar jelas.

“Itu karena biaya pendidikan kalian itu disubsidi. Kalimat sederhananya, rakyat Indonesia urunan duit buat meringankan beban biaya pendidikan kalian. Semua rakyat Indonesia, tidak perduli miskin atau kaya ikut urunan, sehingga kalian di sini juga tidak dibedakan miskin atau kaya. Semuanya sama bayarnya,” lanjutnya.

“Lalu kenapa semua orang harus urunan buat biaya pendidikan kalian. Ya karena kita ini satu bangsa. Tolong menolong, gotong royong, saling membantu itu sudah menjadi falsafah hidup bangsa ini. Dan pada akhirnya, ketika kalian nantinya lulus, lalu entah jadi presiden, pejabat, konglomerat, atau orang biasa sekalipun, kalian tetap ingat bahwa kalian bisa jadi seperti itu karena nilai-nilai itu...itu bisa dibilang utang yang tetap harus dibayarkan.”

Kata-kata yang maknanya sangat dalam, juga sangat berat konsekuensinya menurut saya. Saya merinding, sama merindingnya ketika membacakan sumpah ketika diwisuda. Saya sendiri antara tidak yakin dan sangat tidak yakin ilmu yang saya dapatkan selama bangku kuliah nantinya bisa berguna bagi rakyat Indonesia ini. Tentunya arti ‘berguna’ itu dalam perspektif saya. Mungkin dalam pandangan beberapa orang, yang namanya berguna itu ya terutama bagi diri sendiri, misalnya nantinya setelah lulus dapat pekerjaan bagus, gaji tinggi, mapan lah. Tentunya untuk mencapai kondisi itu ya harus bekerja pada perusahaan besar, perusahaan multinasional. Perusahaan tambang emas misalnya, atau tambang minyak, gas, batu bara, atau BUMN, dan tentunya BUMN yang berhubungan dengan tambang-tambang itu atau jasa konstruksi atau komunikasi. Mana bisa kaya kalau cuma jadi PNS, secara teori kan begitu. Walaupun memang pada kenyataannya menjadi PNS pun bisa kaya.

Lalu dapat istri yang cantik dan solehah, memenuhi persyaratan 4B (Beauty, Brain, Behavior, juga Beriman), yang melahirkan anak-anak yang sehat, lucu dan patuh, yang akhirnya juga tentunya membuat mertua tidak cerewet karena tidak khawatir akan kehidupan putri kesayangannya. Lalu tiap akhir tahun dapat bonus lumayan besar yang bisa digunakan untuk liburan ke tempat-tempat yang tenang dan indah bersama keluarga. Atau mungkin berpikir untuk menambah mobil, karena mobil lama sudah tidak fashionable lagi, atau beli rumah, juga menambah lebar tanah, karena kata orang, hal itu merupakan investasi yang bagus untuk masa depan. Harga rumah dan tanah itu tidak pernah turun, pasti naik. Lalu bisa membiayai orang tua juga mertua umroh atau naik haji. Ikut membantu biaya pendidikan adik sendiri maupun adik istri karena jaman sekarang biaya pendidikan relatif tinggi, sudah tidak ada subsidi-subsidi-an lagi. Nantinya kalau Idul Adha turut berqurban sapi brahma, kalau ada bencana ikut mengirimkan uang pada rekening-rekening yang sudah tertera di layar televisi, juga ikut pengajian-pengajian elegan. Dan pada akhirnya mati masuk surga.

Lalu ‘berguna’ dalam perspektif saya pribadi itu seperti apa? Wah, saya sendiri masih kurang jelas untuk masalah itu, masih meraba-raba, belum bisa merumuskan. Namun saya benar-benar yakin, ‘berguna’ itu ya tidak sekedar seperti di atas itu. Ada sesuatu yang kurang. Entahlah. Saya pribadi lebih suka memakai istilah sukses untuk hal-hal di atas itu, tapi belum mencapai level berguna. Yang jelas, siapa sih yang tidak mau dapat pekerjaan bagus, gaji tinggi, istri 4B, anak-anak yang patuh, harta dimana-mana, juga mertua yang adem-ayem. Dalam perspektif budaya maupun agama, hal-hal itu kan gula-gulanya dunia. Yang namanya gula-gula pasti enak. Tanpa gula-gula ya mana bisa manis hidup ini. Walaupun seringkali juga bikin gigi sakit. Dan sakit gigi itu rasanya benar-benar menyakitkan.

Wah, saya kok jadinya serba ngelantur begini. Jadi lupa dengan pos satpam. Ya mungkin karena pos satpam, bagi banyak orang, sungguh tidak menarik untuk dibicarakan. Tapi tetap saya harus ceritakan, wong judul cerpen ini saja pos satpam. Dan bagi saya, pos satpam ini memang menarik untuk saya ceritakan. Misalnya, terkadang saya rasa pos satpam ini punya daya magis yang cukup tinggi. Buktinya, ketika pertama kali SBY datang mengunjungi kampus tercinta, ketika kampus harus dalam keadaan steril yang benar-benar steril. Di mana orang-orang berjaket kulit gelap dengan potongan rambut cepak atau sekalian gondrong yang bermuka benar-benar dingin berkeliaran menguasai kampus, cuma pos satpam itu yang suasananya hidup. Ketika sebagian besar wilayah kampus gelap gulita, cuma pos satpam itu yang terang benderang, penuh dengan suara gitar, jimbe, dan nyanyian, yang sekali-sekali diselingi beberapa teman yang dengan sangat ekspresif membacakan syair-syair populer. Ya biasanya memang begitu. Ketika orang-orang bermuka dingin itu mencoba memperingatkan pun teman-teman langsung menjawab dengan sengit.

Lha…biasanya setiap hari juga begini kok Mas, wong SBY mau datang atau ndak datang juga ya memang setiap malam memang begini keadaannya…aman-aman saja kok…kalau pun besok malam SBY mau berkunjung ke pos satpam ini ya bakal kami sambut dengan meriah…tapi maaf, paling kami cuma mampu menyediakan kopi dan camilan saja…”

Saya lihat orang berjaket gelap itu pergi dengan muka merah. Lalu beberapa saat kemudian bisa dipastikan giliran PD III yang berkunjung. Tapi beliau memang sudah tahu keadaaannya. Paling menyampaikan sedikit ‘nasehat’, ya semacam formalitas lah. Wong kami tahu dia juga kan takut kedudukannya terancam kalau ada apa-apa. Dan ketika SBY datang kedua kalinya, malahan orang-orang berjaket gelap itu ikut cangkrukkan bersama kami. Menikmati segelas kopi yang kami sediakan, mungkin juga menikmati ‘seni terlalu kontemporer’ yang kami pertunjukan.

“Capek juga Mas kita kalau ada pejabat penting yang datang, apalagi Presiden, berhari-hari tidur ndak tenang, ini saja sudah dua hari kami tidak tidur,” begitu curhat mereka. Kami mau bilang apa.

Namun lebih dari itu semua, saya paling menyukai kalau hanya saya saja yang berada di tempat itu. Bersama satpam yang berjaga tentunya. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, hal itu biasanya terjadi pada akhir-akhir semester, dimana teman-teman sedang sibuk belajar untuk menghadapi ujian atau sibuk mengerjakan tugas besar. Lho memangnya saya tidak belajar atau tidak mengerjakan tugas besar. Ya pasti, belajar dan mengerjakan tugas besar itu kan sudah merupakan hak saya sebagai mahasiswa. Tapi kan tidak ada hubungannya mengerjakan tugas dengan tidak cangkruk di pos satpam, setidaknya begitu menurut saya.

Jika sudah begini keadaannya, saya benar-benar menikmati suasana yang tiap malam biasanya berganti-ganti, tergantung siapa satpam yang mendapat piket malam. Misalnya kalau Pak Dhe Pitono yang berjaga, maka dapat dipastikan suasana akan benar-benar tenang. Biasanya kami berdua membuat api unggun dari sampah, ranting pohon dan daun kering yang berguguran, kadang juga dari bangku kuliah yang sudah rusak parah. Sambil menyeruput segelas kopi yang benar-benar kental dan nikmat, kami ngobrol hingga dini hari. Apa saja kami bicarakan. Biasanya saya bercerita lalu Pak Dhe menaggapi, ya seperti halnya percakapan antara anak dan bapak. Saya memang sudah menganggap Pak Dhe sebagai bapak saya sendiri. Terlalu banyak nasehat, petuah yang saya dapatkan. Ya memang kita bisa belajar dimana saja, pada siapa saja.

Beda lagi jika Mas Gatot yang mendapat giliran piket malam. Sepanjang malam pasti kami habiskan dengan bermain catur. Selalu saja dia penasaran akan kemampuan saya bermain catur. Ya begini-begini, saya saat SD pernah jadi atlet catur junior tingkat kabupaten. Prestasi tertinggi saya itu masuk 3 besar tingkat propinsi. Tapi mentok segitu saja memang prestasi saya. Tidak pernah bisa berkembang, padahal saat itu saya punya kesempatan untuk mengikuti Kejurnas catur yang kalau tidak salah pada saat itu diselenggarakan di Aceh. Tapi tidak pernah dikirim. Menurut saya pribadi, faktor yang paling mempengaruhi hal itu ya karena Bapak juga. Dulu, bahkan mungkin sampai sekarang, Bapak jadi ketua Pengurus Daerah Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia). Dulunya Bapak juga atlet catur. Lho kok punya orang tua yang jadi ketua catur dan juga mantan atlet catur malahan dibilang menghambat, bukannya bisa jadi faktor yang benar-benar mendukung. Anomali memang, Bapak itu untuk urusan tertentu bisa dibilang sangat kaku, benar-benar memegang prinsip. Beliau tidak mau dikatakan punya anak atlet catur hanya karena bapaknya ketua catur. Saat itu ada juga rasa kecewa dalam diri ini, tapi saya benar-benar menghormati, juga sangat memahami sikap Bapak. Toh bagi saya pribadi main catur hanyalah sekedar hobi saja.

Mas Gatot juga suka lagu-lagu lawas semacam lagunya Panbers, Pance, Elly Kasim, Koes Plus, Jane Sahilatua, Ebiet G Ade, Broery, Dewi Yull dll. Nah kebetulan saya pun benar-benar suka dengan lagu-lagu semacam itu. Jadinya sepanjang malam, di sela-sela bermain catur kami menyanyikan lagu-lagu itu diiringi gitar. Lagu favorit kami yaitu Gereja Tua. Beda jika ada teman-teman, pasti lagu-lagu yang dinyanyikan tidak jauh-jauh dari Iwan Fals.

Dan awal mulanya kenapa saya suka lagu-lagu lawas itu, menurut saya ya karena Mamak. Secara tidak langsung beliau mendoktrin saya menyukai lagu-lagu itu. Mamak memang suka menyanyi, mungkin sedari lahir saya sudah terbiasa mendengar lagu-lagu lawas itu. Yang tentunya terekam dalam alam bawah sadar saya, begitu menurut teori psikologi. Mamak bukan sekedar suka menyanyi, tapi juga punya suara yang merdu dan tinggi. Kadang saya berpikir seandainya Mamak lahir dekat-dekat Jakarta, mungkin beliau bisa jadi penyanyi, bukan jadi guru. Sayang sekali hal itu tidak menurun pada saya.

Suara Mamak tidak hanya merdu saat menyanyi tapi juga saat mengaji. Sayang juga hal ini tidak menurun pada saya. Cuma satu kekurangannya, beliau selalu susah mengucapkan huruf ‘F’, pasti jadinya ‘P’. Maklumlah beliau itu asli Sumbawa, seperti halnya orang Sasak, juga orang Sunda, lidah orang asli Sumbawa itu susah mengucapkan huruf ‘F’ dengan benar. Sepanjang beliau mengaji pasti Bapak selalu saja menginterupsi, membenarkan ucapan Mamak. Adegan seperti itu selalu saja terjadi, berulang-ulang. Terkadang saya dengar terjadi perdebatan kecil karena huruf ‘F’ itu, agak berbisik-bisik. Saya senyum-senyum sendiri jika mendengar perdebatan kecil setengah berbisik itu. Ah…dua orang itu memang benar-benar saling mencintai.

Yang paling seru jika Pak ‘Ndut’ Martono yang dapat piket malam. Sepanjang malam dapat dipastikan kami berdebat seru. Tentang apa saja, mulai masalah keyakinan, politik, budaya, sejarah, juga pewayangan. Memperdebatkan Syeh Siti Jenar dengan pahamnya yang dianggap sesat itu, juga dalam hubungannya dengan Wali Songo. Memperdebatkan apakah Ken Arok itu goodguy atau badguy. Memperdebatkan apakah Airlangga itu raja yang bijak atau perusak akidah agama Hindu. Memperdebatkan apakah Majapahit itu benar-benar kerajaan besar atau cuma cerita yang dikarang-karang. Memperdebatkan siapa sebanrnya yang salah dalam peristiwa perang Babat. Memperdebatkan siapa sebenarnya Brawijaya V, yang juga menjadi nama kampus tercinta. Memperdebatkan posisi Pak Harto dalam peristiwa 30 September. Memperdebatkan apakah SBY sudah cukup berhasil atau malah gagal total memimpin Negara. Juga memperdebatkan siapa tokoh pewayangan yang paling hebat.

“Arjuna itu yang paling sakti, Kresna yang katanya titisan Wisnu itu saja sampai mau jadi kusir kereta perangnya, punya pasopati hadiah dari Siwa, senjata yang sakti, juga disukai para wanita,” begitu biasanya kata saya agak provokatif.

Walaaaah ya masih hebatan Hanoman, wong arjuna saja menggunakan lambang Hanoman sebagai panjinya…Arjuna kan bisa mati, kalau Hanoman ndak bisa mati kalau dia sendiri ndak pengen mati…jadi Hanoman itu lebih sakti daripada Arjuna,” begitu jawab Pak Ndut tidak kalah sengit.

Tapi tentu saja tidak selalu berdebat, sekali-kali juga bicara hal lain. Misalnya tentang masa depan. Tentunya masa depan saya yang dibicarakan. Tidak mungkin tho masa depannya.

“Satpam ya tetap jadi satpam, aku ini bisa diangkat jadi PNS saja sudah hebat…wong aku ini cuma lulusan SMA saja kok,” begitu katanya selalu.

“Kata Pak Anu, juga Pak Anu sampeyan itu punya bakat jadi arsitek hebat,” lanjutnya menyebutkan beberapa nama dosen.

Wah kalau sampeyan jadi arsitek hebat jangan lupa kita-kita lhotak doakan sampeyan bisa jadi arsitek hebat.”

Nah itu dia masalahnya Pak Ndut, saya ndak punya bakat jadi orang hebat,” kata saya.

Berkali-kali saya mendengar pujian itu. Awalnya senang juga. Siapa yang tidak senang dipuji. Tapi lama-lama risih juga. Awalnya memang saya benar-benar bersemangat menjadi arsitek hebat, saya yakin juga punya kemampuan untuk mencapai hal itu. Setelah jadi orang hebat lalu saya menggunakan ilmu saya itu demi kepentingan rakyat. Tapi dalam perjalannnya saya mulai berpikir, mempertanyakan cita-cita itu. Apa hebatnya jadi orang hebat. Apa bagusnya jadi arsitek sukses tapi tidak berguna bagi rakyat. Bahkan juga saya mempertanyakan kembali apakah memang jurusan yang saya ambil itu sudah tepat. Nyatanya memang begitu. Banyak orang yang menjadi sukses lalu lupa dengan cita-cita awalnya yang benar-benar luhur. Terlalu disibukkan dengan proyek-proyek besar, juga dilalaikan oleh sorotan media. Mana punya waktu untuk memikirkan rakyat lagi. Apalagi singgah di pos satpam itu untuk sekedar minum kopi. Lagipula kan tidak level orang hebat minum kopi di pos satpam, apalagi berdebat dengan satpam. Benar-benar tidak pada levelnya.

Wahmending seperti ini saja Pak Ndut…sederhana saja…nanti kalau saya jadi orang hebat ya ndak bakal saya ingat sampeyan…kalaupun ingat terus kebetulan lewat sini ya paling saya cuma membunyikan klakson mobil mewah saya, untung-untung saya sempat menurunkan kaca mobil sekedar melambaikan tangan…kan ndak level itu kalau orang hebat mampir ngopi di pos satpam, apalagi ngobrol dengan satpam…wah ya bisa malu saya dihadapan kolega-kolega saya,” kata saya dengan nada yang disombong-sombongkan.

Pak Ndut langsung saja misuh-misuh kemudian kami tertawa terbahak-bahak. Ya seandainya saya suatu hari nanti ‘dikutuk’ jadi orang hebat, semoga saja saya masih sempat mampir di pos satpam itu untuk sekedar minum kopi, juga bisa berbincang hangat dengan Pak Dhe, main catur dan bernyanyi tembang-tembang lawas dengan Mas Gatot, atau berdebat seru dengan Pak ‘Ndut’ Martono tentang siapa yang paling hebat antara Arjuna dan Hanoman. Walaupun saya benar-benar sangsi, hampir tidak yakin kalau hal itu bisa terjadi. Kan ndak level…